KATADATA | Agung Samosir

KATADATA – Jakarta menjadi kota dengan biaya hidup tertinggi, yaitu Rp 7,5 juta per bulan dengan jumlah anggota rumah tangga rata-rata 4,1 orang. Sedangkan Banyuwangi menjadi kota dengan biaya hidup terendah yaitu Rp 3,02 juta.  

"Secara nasional, rata-rata biaya hidup sebesar Rp 5,58 juta," ujar Kepala BPS Suryamin.

Hal tersebut merupakan hasil Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilakukan BPS di setiap lima tahun sekali. SBH 2012 dilaksanakan secara triwulanan di 82 kota yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 49 kota lainnya. Survei ini dilakukan di daerah perkotaan (urban area) dengan total sampel sebanyak 136.080 rumah tangga.

Setelah Jakarta, di urutan kedua yaitu Kota Jayapura dengan biaya hidup Rp 6,9 juta. Ternate dan Depok di urutan selanjutnya masing-masing biaya hidup Rp 6,4 juta dan Rp 6,3 juta (lihat tabel). Pada survei 2007, Jakarta juta menjadi urutan pertama dengan biaya hidup Rp 5,05 juta. Menyusul Banda Aceh dan Batam masing-masing Rp 4,4 juta.

Dalam survei tersebut, proporsi biaya hidup makanan dan nonmakanan tercatat masing-masing sebesar 35,04 persen dan 64,96 persen. Jika dibandingkan hasil SBH 2007, menunjukkan proporsi biaya hidup untuk makanan dan nonmakanan masing-masing sebesar 36,12 persen dan 63,88 persen.

Jakarta yang memiliki biaya hidup tertinggi menjadi urutan pertama kota dengan proporsi biaya hidup makanan terendah yakni sebesar 28,43 persen. Sedangkan proporsi biaya hidup non-makanannya sebesar 71,57 persen. Urutan selanjutnya yaitu kota Depok, Ambon, Kendari, Bau Bau dengan masing 32,88 persen, 32,91 persen, 32,94 persen dan 33,49 persen. Sedangkan Kota Meulaboh merupakan kota dengan proporsi biaya hidup makanan tertinggi.

Biaya hidup setiap kota juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan hasil SBH 2007. Peningkatan biaya hidup tertinggi terjadi di Kota Purwokerto dari Rp 2,08 juta pada 2007 menjadi Rp 4,08 juta per bulan pada 2012 atau naik sebesar 96,35 persen. Urutan kedua yaitu Banjarmasin dari Rp 2,4 juta menjadi Rp 4,8 juta atau naik 95,75 persen.

Sedangkan kota dengan perubahan biaya hidup terendah terjadi di Banda Aceh yaitu dari Rp 4,4 uta menjadi Rp 6,1 juta atau naik 40,02 persen. Urutan kedua Kota Dumai dari Rp 3,65 juta menjadi Rp 5,17 juta atau naik 41,02 persen.

Hasil SBH 2012 mencerminkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya, pada 2007. Hal itu tercermin dari pergeseran pola konsumsi. Pada SBH 2012 menunjukkan untuk kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar menempati urutan pertama proporsi terbesar yaitu 25,37 persen dari total pengeluaran.

Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan menempati urutan kedua, sebesar 19,15 persen, dan kelompok bahan makanan menempati urutan ketiga yaitu sebesar 18,85 persen.

Berbeda dengan pola konsumsi hasil SBH 2007, biaya hidup untuk kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar di urutan pertama sebesar 25,41 persen. Urutan kedua kelompok bahan makanan menempati urutan kedua sebesar 19,57 persen, dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan di urutan ketiga sebesar 19,12 persen.

leftKATADATA adalah perusahaan media dan riset di bidang ekonomi dan bisnis yang memadukan kekuatan jurnalistik dan ketajaman analisis.

Newsletter

Daftarkan email Anda untuk berlangganan konten digital kami