Menkeu Lebih Khawatirkan Perlambatan Ekonomi Cina daripada Jerman
KATADATA ? Menteri Keuangan M. Chatib Basri mengatakan, tidak terlalu mengkhawatirkan pelemahan ekonomi yang terjadi di Jerman. Dia justru lebih mewaspadai perlambatan pertumbuhan ekonomi di Cina.
Cina merupakan negara tujuan utama ekspor Indonesia. ?Kalau yang paling signifikan adalah Cina,? katanya kepada Katadata di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (14/10) malam.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nonmigas ke Cina periode Januari-Agustus 2014 mencapai US$ 11,3 miliar. Jumlah ini setara 11,7 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia. (Baca: Target Ekspor Akan Direvisi Lagi karena Jerman Terancam Krisis)
Sementara ekspor nonmigas Indonesia ke Jerman tercatat hanya US$ 1,9 miliar sepanjang Januari-Agustus 2014 atau sekitar 2 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia. Bahkan ekspor ke Cina masih lebih besar jika dibandingkan dengan ekspor nonmigas ke kawasan Uni Eropa.
Meski begitu, Chatib mengatakan, ekonomi Indonesia dapat bergerak lebih baik. Mengingat ekonomi Indonesia dapat tumbuh sebesar 5 persen pada saat situasi global tidak mendukung.
?Cuma ada dua negara yang performance 5 persen yakni Indonesia dan India,?ucapnya. (Baca: Jerman Krisis, Rupiah Kian Sulit Menguat)
Seperti diberitakan, ancaman krisis ekonomi di Jerman muncul seiring dirilisnya data ekspor pada Agustus 2014 yang turun hingga 5,8 persen atau terendah dalam 5,5 tahun terakhir.
Turunnya ekspor ini melengkapi indikator lainnya, yakni kinerja produksi industri Agustus yang merosot hingga 4 persen dari bulan sebelumnya. Padahal tadinya penurunan diperkirakan hanya 1,5 persen.
Sementara kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina sejalan dengan proyeksi yang dirilis Dana Moneter Internasional (IMF) pada pekan lalu. Pada tahun ini, ekonomi Cina diprediksi hanya tumbuh 7,4 persen lebih rendah. (Baca: Jerman Terancam Krisis, The Fed Kemungkinan Tunda Kenaikan Bunga)
Meski lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,3 persen, proyeksi ekonomi Cina itu lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 7,7 persen.
Adapun pada 2015, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Cina kembali turun menjadi 7,1 persen. Sementara ekonomi global diprediksi naik jadi 3,8 persen.
