OJK: Kenaikan Kredit Bermasalah Belum Pengaruhi Perbankan

Aria W. Yudhistira
3 Agustus 2015, 10:47
Katadata
KATADATA
Otoritas Jasa Keuangan menilai kondisi perbankan pada saat ini masih terkendali.

KATADATA ? Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai belum ada masalah dalam kinerja perbankan saat ini. Meski ada kenaikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), namun kenaikan tersebut masih terkendali.

Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan OJK Irwan Lubis mengatakan, kenaikan kredit bermasalah disebabkan melambatnya perekonomian yang mempengaruhi kinerja sejumlah sektor. Makanya, ada debitur yang kesulitan untuk membayar utangnya.

Kendati begitu, dia menilai, perbankan sudah cukup baik mengantisipasi kenaikan NPL dengan meningkatkan cadangannya, walau ini mengakibatkan turunnya laba perbankan. Dia berpandangan, NPL akan berkurang pada semester II seiring dengan membaiknya tingkat penyerapan anggaran pemerintah.

?Kami tahu kemampuan debitur untuk bayar kewajiban (menurun). Makanya ada beberapa debitur terganggu. Terutama di sektor yang bisnisnya turun, seperti batubara, tambang, dan transportasi. Tapi pengaruhnya masih kecil dan bank sudah membentuk cadangan lebih dari cukup. Dan tidak berpengaruh pada bank,? kata dia kepada Katadata, Senin (3/8).

Pandangan serupa sebelumnya juga disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) agus Martowardojo. Dia menilai secara umum situasi perekonomian masih dalam kondisi baik. Kenaikan NPL memang menjadi perhatian, tapi seiring dengan mulai terserapnya anggaran pemerintah membuat kegiatan ekonomi menjadi lebih bergeliat.

?Kami lihat ada kenaikan NPL ke 2,6 persen, tapi kan itu gross, sedangkan secara nett masih di bawah 1,4 persen. Menurut kami itu kondisi yang perlu diperhatikan, tapi masih baik,? kata dia di Jakarta, Jumat (31/7).

Sesuai Peraturan BI Nomor 15/2/PBI/2013 tentang Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum Konvensional, batas maksimal NPL sebesar 5 persen. (Baca: Antisipasi Kredit Bermasalah, Dua Bank BUMN Naikkan Pencadangan)

Direktur Korporasi PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Dhalia Mansor Ariotedjo mengatakan, penurunan kredit terjadi di hampir semua sektor. Banyak perusahaan belum mencairkan dana kredit karena ingin menunda investasi, termasuk sektor infrastruktur yang menunda pembangunan proyek. Bahkan, kata dia, belum ada perusahaan yang mengajukan pembiayaan untuk semester II-2015.

?Sejak awal tahun, permohonan (kredit) saja nggak ada, atau sedikit. Permintaan kredit kecil, apalagi investasi. Kayaknya, kuartal 4-2015 sudah kelihatan (peningkatan pencairan), kalau dilihat dari permitaan sekarang yang masuk,? ujar dia.

Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Haru Koesmahargyo juga mengatakan, kenaikan NPL menjadi 2,3 persen secara gross terutama disumbang oleh segmen korporasi, terutama agribisnis. Sektor ini tertekan oleh perlambatan ekonomi dan menurunnya ekspor karena perlambatan ekonomi Cina.

Haru menyebutkan, NPL di segmen ini mencapai 3,28 persen, dan NPL hingga akhir tahun masih akan berada pada kisaran 2,3 persen-2,4 persen. ?(NPL) di bawah 2 persen mungkin agak sulit, mungkin di 2,3 persen sampai 2,4 persen, karena NPL ada kemungkinan masih naik. Cuma naiknya nggak langsung, pelan-pelan,? tutur Haru.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Desy Setyowati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...