Gagal bayar surat utang Cosun dan menyeret Ant tersebut menunjukkan kerumitan bisnis fintech yang menggurita, namun tanpa aturan yang jelas.
Fintech
Bank Indonesia Fintech Office Arief Kamaludin (Katadata)

Perkembangan jasa layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) di Cina tengah menghadapi masalah. Ant Financial Services Group, perusahaan layanan tersebut yang merupakan afiliasi Grup Alibaba, terseret kasus gagal bayar surat utang Cosun Group senilai US$ 45 juta atau sekitar Rp 605 miliar pada bulan ini.

Meski Ant Financial hanya menyediakan wadah (platform) finansial digital, kasus gagal bayar surat utang Cosun tersebut telah menerbitkan rentetan pertanyaan terhadap kualitas investasi yang dijajakannya. “Ini adalah sebuah platform,” ujar Juru bicara Ant, Miranda Shek, seperti dikutip The Wall Street Journal, Kamis (22/12) pekan lalu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Namun, ia menegaskan, Ant akan berupaya melindungi hak para investor. Sebab, akibat kasus tersebut, reputasi Ant dipertaruhkan di hadapan banyak investor. Tercatat sebanyak 13 ribu investor membeli surat utang Cosun melalui layanan fintech Ant.

 

Cosun, perusahaan yang memproduksi ponsel, didirikan oleh miliarder telekomunikasi Cina bernama Wu Ruilin. Bulan ini, mereka mengumumkan pernyataan kegagalan pembayaran surat utang dengan imbal hasil tinggi tinggi yang diperdagangkan secara online sejak dua tahun lalu.

(Baca: Minimalkan Penipuan, Aturan Fintech Diminta Segera Terbit)

Penjualan surat utang kepada investor dilakukan melalui Ant, perusahaan finansial digital dan mengelola layanan pembayaran Alibaba  Group Holding Ltd. Dari penerbitan surat utang tersebut, Cosun meraup US$ 166 juta secara online melalui Ant.

Kegagalan pembayaran surat utang Cosun hampir bersamaan dengan terpuruknya pasar surat utang Cina. Kondisi ini dilatari oleh kenaikan suku bunga dana bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) pada 14 Desember lalu. Hingga pertengahan Desember ini, tercatat 55 korporasi di Cina gagal membayar utangnya.

Sedangkan kegagalan yang dialami Cosun dan menyeret Ant tersebut menunjukkan kerumitan bisnis fintech yang menggurita, namun tanpa aturan yang jelas. Sebab, layanan secara online ini telah memungkinkan perpindahan kas secara besar-besaran dari rekening pribadi untuk pinjaman bisnis.

Para petinggi di industri fintech menilai sulit untuk mencari pihak yang bertanggungjawab, karena banyaknya afiliasi bisnis di Cina. Contohnya adalah investasi melalui surat utang Cosun di bursa Guangdong. Surat utang ini disalurkan kepada para investor di Cina lewat platform online milik Ant yang bernama Zhao Cai Bao. Sedangkan jaminannya dari Zheshang Property dan Casualty Insurance Co.

(Baca: OJK Siapkan Aturan Tata Kelola Risiko Layanan Teknologi Finansial)

Di sisi lain, Ant mengelola layanan pembayaran terkenal di Cina yaitu Alipay sehingga menjadikannya sebagai perusahaan dengan nilai tertinggiDeutsche Bank mencatat nilai perusahaan Ant Financial pada September lalu mencapai US$ 67 miliar. Layanan pembayaran yang dibuat perusahaan itu menjadi penghubung antara konsumen dan pedagang.

Para analis menilai Alipay menjadi titik awal Ant dalam mendulang keuntungan dari pasar keuangan, pinjaman peer-to-peer, produk manajemen kekayaan, asuransi, dan kredit perseorangan. Seluruh fitur tersebut bisa diakses melalui aplikasi.

(Baca: Makin Menjamur, OJK Menaungi 120 Perusahaan Fintech)

Setelah kasus gagal bayar surat utang Cosun, Ant  meminta semua pihak untuk membayar para  investor, dan berjanji menangani tuntutannya. Meski begitu, Ant mengatakan tidak bertanggung jawab untuk melakukan pembayaran langsung, karena produk-produk yang ditawarkannya dikembangkan oleh pihak ketiga.

Artikel Terkait
Modern Internasional ini akan menambah aset dengan mengakuisisi peternakan sapi perah dan pengolahan susu PT Nusantara Agri Sejati.
"Untuk ekspansi, kami akan patuhi peraturan. Bukan karena kami berbasis teknologi, maka kami hajar terus, tabrak sana-sini," kata CEO pinjam.co.id Teguh A.
Bank Indonesia (BI) tengah membekukan layanan isi ulang milik empat penyelenggara uang elektronik yakni Tokopedia, Bukalapak, Shopee dan PayTren.