Pada September 2016, jumlah warga miskin di Indonesia mencapai 27,76 juta orang atau 10,70 persen dari total populasi. Berkurang 250 ribu jiwa dibanding Maret 2016.
Kemiskinan
Arief Kamaludin|KATADATA

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa pada bulan September 2016, jumlah warga miskin di Indonesia mencapai 27,76 juta orang atau 10,70 persen dari jumlah penduduk. Beras dan rokok disebut sebagai dua komoditas yang paling banyak menyumbang angka kemiskinan.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, makanan adalah kelompok barang yang paling banyak menyumbang angka kemiskinan. “Peran makanan di dalam garis kemiskinan 73 persen dengan melihat kondisi ini, stabilisasi harga pangan perlu dijaga karena pengaruhnya besar terhadap garis kemiskinan,” katanya, Selasa (3/1/2016)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Ia merinci, beras menyumbangkan 18,31 persen angka kemiskinan di perkotaan dan 25,35 persen di pedesaan. Sedangkan untuk komoditi rokok sumbangannya sebesar 10,70 persen di perkotaan dan pedesaan.

(Baca juga:  Inflasi 2016 Sebesar 3,02 Persen, Terendah Sejak 2010)

Bagaimanapun, menurut Suhariyanto, jumlah penduduk miskin pada September 2016 berkurang 250 ribu orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2016. Di mana, saat itu jumlah penduduk miskin mencapai 28,01 juta orang atau 10,86 persen dari total populasi.

Begitu juga jika dibandingkan dengan September tahun sebelumnya, jumlah penduduk miskin mengalami penurunan sebanyak 750 ribu orang.

Grafik: Gini Rasio 2006-2016
Gini Rasio 2006-2016

Suhariyanto menyatakan, ada beberapa faktor yang terkait dengan penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama periode Maret – September 2016. “Di antaranya, selama periode Maret 2016 – September 2016 terjadi inflasi umum relatif rendah yaitu tercatat sebesar 1,34 persen.”

Begitu juga, nominal rata-rata upah buruh tani pada September 2016 naik sebesar 1,42 persen dibanding upah buruh tani per hari Maret 2016, yaitu dari Rp 47.559 menjadi Rp 48.235 per hari. Selain itu, rata-rata upah buruh bangunan pada September 2016 naik dari Rp 81.481 menjadi Rp 82.480 per hari.

(Baca juga:  Dana Daerah Nganggur, Bappenas-Mendagri Kirim Surat Edaran)

Menurut Suhariyanto, jika meninjau data perkembangan tingkat kemiskinan dari tahun 1998 sampai September 2016, jumlah dan persentase penduduk miskin terus mengalami penurunan, kecuali pada tahun 2006, September 2013, dan Maret 2015.

Pada tahun 1998 jumlah penduduk miskin sebanyak 49,50 juta orang, atau 24,20 persen jumlah ini terus turun sampai 2005 di angka 35,10 juta orang atau 15,97 persen. Namun, setelah itu kembali mengalami kenaikan  pada 2006 menjadi 39,30 juta orang atau 17,75 persen.

Jumlah penduduk miskin pun terus mengalami penurunan hingga pada 2012 sampai September 2016 jumlahnya berkisar di angka 27 juta sampai 28 juta orang dengan persentase sebesar 10 sampai 11 persen.

(Baca juga: Harga Komoditas Naik, BI Optimistis Ekonomi 2016 Lebih Baik)

BPS mendefinisikan garis kemiskinan menurut rata-rata pengeluaran sebesar Rp 361.990 per bulan atau naik sebesar 4,98 persen di banding bulan yang sama tahun 2015 sebesar Rp 344.809 per bulan.

Muhammad Firman
Artikel Terkait
Nilai tukar rupiah perkasa terhadap yen Jepang, euro, dan dolar Australia pada September lalu.
"Saya belum tahu komposisinya tapi angka inflasinya masih baik," kata Darmin
Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung di Bali berisiko mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada September.