Ke depan, Sri Mulyani berharap sektor manufaktur bisa bangkit. “Kami harap sektor manufaktur akan naik karena sangat penting sekali dari sisi eksternal, ekspor impor, dan kesempatan kerja.”
Sri Mulyani
Arief Kamaludin|KATADATA

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menghitung pertumbuhan ekonomi 2016 cuma sebesar 5 persen. Taksiran ini sedikit meleset dibanding prediksi sebelumnya yakni 5,1 persen. Penyebab utamanya, pengeluaran pemerintah yang stagnan dibandingkan tahun sebelumnya.

Pengeluaran pemerintah relatif stagnan lantaran belanja terkontraksi pada semester II. Hal tersebut imbas dari kebijakan pemangkasan belanja sebesar Rp 127,9 triliun seiring dengan realisasi penerimaan negara yang diproyeksi masih seret setahun lalu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

“Ini sebab sumbangan pemerintah relatif flat. Tapi kalau dilihat masing-masing pos nilainya tidak seperti itu,” kata Sri Mulyani saat konferensi pers terkait APBN-P 2016 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (3/1).

Meski begitu, penggerak ekonomi lainnya yakni konsumsi rumah tangga diproyeksikan tumbuh lima persen, yang berarti stabil dari tahun-tahun sebelumnya. Sri Mulyani mengklaim rendahnya inflasi yaitu 3,02 persen hingga akhir tahun lalu,  bukan akibat penurunan daya beli masyarakat tetapi perbaikan struktur biaya (cost structure).

Selain itu, rendahnya inflasi juga dikarenakan harga komoditas yang menurun. “Pemerintah mengurangi porsi yang bisa menaikkan cost structure-nya, itu (inflasi rendah karena) refleksi itu. Apakah daya beli menurun? Tapi kalau konsumsi rumah tangga masih tumbuh lima persen, menurut saya, bukan karena itu,” kata Sri Mulyani.

(Baca juga: Inflasi 2016 Sebesar 3,02 Persen, Terendah Sejak 2010)

Sementara itu, investasi atau Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) diperkirakan masih bisa tumbuh 4,7 persen. PMTB merupakan pengeluaran untuk barang modal sebagai investasi, seperti untuk bangunan, jalan dan bandara, serta mesin dan peralatan.

Artinya, sektor riil mampu menemukan pembiayaan sendiri di luar dari pemerintah yaitu dari perbankan dan pasar modal. Selain itu investasi langsung juga membantu mendorong pertumbuhan ekonomi. (Baca juga: Luhut: Investasi Kereta Semicepat Jakarta-Surabaya Rp 80 Triliun)

Pertumbuhan ekonomi juga disokong oleh membaiknya kinerja ekspor imbas kenaikan harga beberapa komoditas. Sepanjang 2016, Sri Mulyani mencatat pertumbuhan negatif ekspor menciut jadi hanya 2,9 persen. Jika kondisi ini berlanjut semestinya menjadi sentimen positif bagi pertumbuhan ekonomi di 2017.

 Tahun 2016

Konsumsi Rumah Tangga

LNPRT

Konsumsi Pemerintah

PMTB

Ekspor

Impor

PDB

Kuartal I

4,94%

6,38%

2,93%

5,6%

-3,9%

- 4,2%

4,92%

Kuartal II

5,04%

6,72%

6,28%

5,06%

-2,73%

-3,01%

5,18%

Kuartal III

5,01%

6,65%

-2,97%

4,06%

-6%

-3,9%

5,02%

Kuartal IV

5,1%*

-3,3%

4,4%

-2,9%

-2,5%

5%

  *Konsumsi rumah tangga termasuk Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT)

Bila dilihat per sektor, Sri Mulyani mengatakan, bisnis pertanian kemungkinan tumbuh stagnan atau sama dengan 2015. Kemudian, pertambangan dan penggalian menunjukkan pertumbuhan positif yaitu 0,1 persen di Kuartal III.

Konstruksi juga tumbuh positif dibanding tahun sebelumnya, dibantu pembiayaan tahun jamak (multiyears). Sedangkan industri pengolahan tumbuh 4,6 persen atau lebih baik dibanding 2015 yang sebesar 4,2 persen. (Baca juga: Target Perikanan Budidaya Tak Tercapai, Pemerintah Salahkan Cuaca)

Ke depan, Sri Mulyani berharap sektor manufaktur bisa bangkit sehingga turut menggerakkan perekonomian. “Kami harap sektor manufaktur akan naik karena sangat penting sekali dari sisi eksternal, ekspor impor, dan kesempatan kerja,” tutur Sri Mulyani.

Artikel Terkait
Di tengah ekonomi yang belum pulih, Indonesia menghadapi tantangan global di antaranya normalisasi kebijakan moneter di negara maju.
Risiko yang perlu diwaspadai dari mulai konflik Pilkada hingga kenaikan harga minyak dunia.
Meskipun laju investasi langsung dari Amerika kemungkinan berkurang, Indonesia dianggap menjadi salah satu negara yang paling menarik bagi investor.