Terjadi peningkatan pembelian SBN, baik melalui manajer investasi (MI) ataupun perusahaan efek. “Kami lihat perdagangan SBN meningkat, net buy juga naik.”
OJK
Agung Samosir | Katadata

Dana repatriasi hasil program pengampunan pajak (tax amnesty) terus mengalir masuk ke dalam negeri.  Dana tersebut ada yang masih bertahan di perbankan, tapi banyak pula yang sudah masuk ke instrumen investasi di pasar domestik. 

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengungkapkan, banyak peserta pengampunan pajak yang berminat masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). Selain karena imbal hasil (yield) yang tinggi, instrumen investasi ini juga dinilai aman.

Nurhaida memantau peningkatan pembelian SBN, baik melalui manajer investasi (MI) ataupun perusahaan efek. “Kami lihat perdagangan SBN meningkat, net buy (pembelian bersih) di SBN juga naik,” kata dia di Jakarta, Jumat (6/1).

Sebelumnya, Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menyebut hampir 50 persen dana repatriasi mengalir ke SBN. Meski begitu, sebagian lainnya masih mengendap di deposito bank. Sekadar catatan, sejauh ini, OJK mencatat dana repatriasi yang telah masuk ke perbankan berkisar Rp 98 – Rp 100 triliun dari total komitmen yang mencapai Rp 141 triliun.

(Baca juga: Ikut Tax Amnesty, Cuma 1 Persen WNI di Singapura Pulangkan Harta)

Untuk mengantisipasi peralihan dana, beberapa bank bahkan memberikan penawaran khusus. “Ada beberapa (bank) yang menaikkan suku bunga supaya (dana repatriasi) stay di deposito,” kata David.

Menurut dia, dana segar dari hasil repatriasi itu menjadi incaran bank-bank untuk memupuk simpanan. Sebab, saat ini likuiditas bank cenderung masih ketat.

Meski begitu, David melihat, penempatan dana di SBN biasanya juga bersifat sementara. Selanjutnya pemilik dana akan melihat instrumen investasi lain yang dianggap prospektif. (Baca juga: Dana Repatriasi Jadi Rebutan, Bank Naikkan Bunga)

Selain ke deposito dan SBN, pemilik dana memiliki berbagai opsi penempatan lain. Misalnya, mengembangkan usahanya sendiri dengan membeli tanah atau saham yang terkait dengan usahanya. Selain itu, pemilik dana akan masuk ke obligasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang membiayai proyek infrastruktur. 

Di sisi lain, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Haddad menilai likuiditas di perbankan cukup longgar. Keputusan bank menaikkan suku bunga deposito, kemungkinan karena mempertimbangkan risiko kenaikan suku bunga dana oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. “Risk likuidity saya kira belakangan ini cukup longgar. Risk di pasar juga terkendali."