Industri tekstil nasional sedang turun pamor. Teladan Jokowi diharapkan mampu membuat masyarakat lebih mencintai produk dalam negeri.
Jokowi
Laily Rachev | Biro Pers Sekretariat Presiden

Apapun yang dikenakan Presiden Joko “Jokowi” Widodo selalu jadi perbincangan. Dari jaket bomber hingga payung biru telah terbukti memikat netizen, hingga banyak yang ingin membeli item serupa untuk dirinya.

Kali ini, giliran sarung Jokowi yang menjadi viral. Jokowi memang telah beberapa kali difoto ketika mengenakan sarung, tapi kali ini berbeda. Sebab, jika biasanya ia mengenakan sarung sebagai bagian dari busana santai, kali ini Jokowi memadukannya dengan setelan kemeja putih dan jas hitam terkancing rapi.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Hal lain yang membuat sarung merah muda beraksen marun itu “naik kelas” adalah karena Jokowi mengenakannya saat naik pesawat kepresidenan. Peristiwa itu terjadi Ahad (8/1) kemarin. Hari itu, Jokowi akan menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pekalongan, Jawa Tengah.

(Baca juga: Industri Nonmigas 2017 Diprediksi Tumbuh Sejalan Target Ekonomi)

Foto Jokowi bersarung itu diambil saat dia akan naik pesawat kepresidenan dari Bandara Halim Perdanakusuma. “Sepertinya ini kode bahwa Presiden ingin menggenjot industri tekstil yang sedang turun,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Haryadi Sukamdani, Senin, 9 Januari 2017.

Penilaian itu, menurutnya tak berlebihan. Sebab, setelah jaket bombernya jadi buruan para fashionista, Jokowi memang seolah sadar akan pesonanya di dunia maya. Ia pun mulai berpromosi.

Dalam kunjungan kerja ke Balikpapan, Desember 2016 lalu misalnya, Jokowi membeli sepasang sandal jepit biru di sebuah pusat perbelanjaan. Melalui akun Twitternya, Jokowi memasang foto sandal barunya dengan mencantumkan harganya yang hanya Rp 119 ribu. Tak lupa, ia menuliskan, “Produk Indonesia bagus kualitasnya.”

(Baca juga: Pertumbuhan Produksi Manufaktur Mulai Membaik)

Ia juga mengulang modus serupa di Pekalongan. Tadi malam, ia mengunggah foto dirinya yang sedang berbelanja. “Tadi mampir ke Plaza Pekalongan. Lumayan, dapat sarung bagus, harganya Rp 60 ribu -Jkw," kata Presiden melalui akun resminya, @jokowi.

Cuitan itu mendapat 990 kali retweet dan disukai oleh lebih dari 2.500 pengguna Twitter. Sayangnya, nasib industri tekstil Indonesia sedang tak sesemarak itu. “Tekstil sedang turun, baik dari sisi ekspor maupun domestik,” kata Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat.

Grafik: Petumbuhan Industri Sedang dan Besar Hingga Kuartal III/2016
Petumbuhan Industri Sedang dan Besar Hingga Kuartal III/2016

Ekspor tekstil sebagai salah satu produk industri unggulan Indonesia memang sedang lesu. Pada 2015, ekspor tekstil dan produk turunannya mencapai US$ 12,28 miliar atau setara 8,17 dari total ekspor Indonesia. Namun pada Januari-Oktober 2016, angkanya tercatat turun 4,3 persen. “Sampai akhir 2016, menurut perhitungan kami, tekstil tampaknya akan turun 4-5 persen,” kata Ade.

(Baca juga: Pengusaha Tekstil dan Farmasi Minta Diskon Tarif Listrik Seharian)

Menurut Ade, salah satu penyebab turunnya ekspor Indonesia adalah karena kalah bersaing dengan Vietnam. Sebab, dengan perjanjian dagang yang dimilikinya, produk tekstil Vietnam bisa diterima pasar Amerika Serikat dan Eropa tanpa bea masuk. “Bea masuk ini bisa mencapai 12 persen, harga produk kita jadi lebih mahal di sana,” ujarnya.

Sementara di dalam negeri, produk tekstil Indonesia harus bersaing dengan produk Cina. Akibat gempuran tekstil murah dari negeri tirai bambu, tahun lalu produksi dalam negeri terpuruk hingga minus 3 persen. “Semoga dengan teladan Pak Jokowi, warga kita juga jadi lebih suka memakai produk dalam negeri,” kata Ade.

Pingit Aria
Artikel Terkait
Mitsubishi yang menjalin joint venture dengan Uniqlo dan Lawson berencana memperluas bisnis di Indonesia.
Pengenalan ciri khas dan penerapan paten penting dilakukan agar batik Indonesia tak mudah ditiru produk buatan negara lain.
Kajian ini akan dibahas lebih lanjut dalam Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Bank indonesia di Bandung pada 26-27 September 2017