Cadangan devisa diramal berkurang sekitar US$ 1-2 miliar sepanjang Januari 2017. Sebab, ada pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo di awal tahun.
Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa (cadev) pada Desember 2016 mencapai US$ 116,4 miliar. Jumlahnya naik US$ 4,9 miliar atau 4,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 111,47 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Tirta Segara mengatakan, peningkatan cadangan devisa berasal dari penerbitan surat utang valuta asing (valas) pemerintah atau obligasi global dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Selain itu, tambahan cadangan devisa juga didapat dari penerimaan pajak dan devisa minyak dan gas bumi (migas).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

“Penerimaan cadev tersebut melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah dan Surat Berharga BI (SBBI) valas jatuh tempo,” kata Tirta dalam siaran pers BI, Senin (9/1). (Baca juga: BI Klaim Cadangan Devisa Cukup Hadapi Gejolak Awal 2017)

Besaran cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 8,8 bulan impor atau 8,4 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah. Selain itu, berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. BI menilai cadangan devisa itu mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, meski kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri cukup besar, pemasukan valas dari surplus neraca perdagangan dan obligasi global jauh lebih besar. “Pemasukan devisa jauh lebih besar,” ujarnya.

Selain itu, menurut Perry, kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah pada Desember 2016 lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Sebab, rupiah terbilang stabil pada akhir tahun lalu.

Ekonom Maybank Juniman mengatakan, rupiah pada Desember lalu bergerak stabil di kisaran 13.400-13.500 per dolar Amerika Serikat (AS) lantaran pasar sudah mengantisipasi kebijakan Presiden AS terpilih Donald Trump. “Jadi peluang USD lebih kuat lagi menunggu keputusan FOMC (Federal Open Market Committee) dibanding Trump. Kebijakan Trump ini sudah di-price in (disesuaikan) pasar November-Desember,” katanya.

(Baca juga: Transaksi Dagang di ASEAN Pakai Mata Uang Lokal Tak Diminati)

Kenaikan cadangan devisa juga disokong oleh besarnya aliran dana asing ke pasar saham dan obligasi. Investor asing mencatatkan pembelian bersih di saham dan obligasi sepanjang tahun lalu. Keputusan pemerintah yang memutus hubungan kerja dengan bank investasi asal Amerika Serikat JP Morgan, juga tak menyurutkan minat investor asing terhadap obligasi negara Indonesia.

(Baca juga: Digoyang JP Morgan, Lelang Perdana Obligasi Negara Laku Keras)

Meski begitu, ia meramalkan cadangan devisa bakal berkurang sekitar US$ 1 miliar hingga US$ 2 miliar sepanjang Januari 2017. Sebab, ada pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo di awal tahun.

Adapun nilai tukar rupiah kemungkinan hanya akan bergerak di kisaran 13.500-an per dolar AS bila ada tekanan global akibat kebijakan Trump di AS. Alhasil, intervensi yang dilakukan BI diyakini tidak akan besar.

Artikel Terkait
Meski utang lebih tinggi dibanding aset, BI memandang perkembangan posisi investasi internasional Indonesia pada kuartal I tahun ini masih cukup sehat.
"Nanti ada potensi hitung dari persentase top-up berapa. Kalau kecil top-up-nya, jangan mahal-mahal (biaya isi ulangnya)."
"Kuartal I kemarin secara riil ekspor bisa tumbuh delapan persen. Di kuartal II, kalau permintaan enggak turun secara riil ekspor (tumbuh) tujuh persenan," kata Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo.