Ada 8 kandidat yang akan memperebutkan kursi Presiden IFAD. Perinciannya, tiga kandidat berasal dari Eropa, dua dari Amerika, dua dari Afrika, dan satu dari Asia yakni dirinya sendiri.
Bambang Bappenas
Arief Kamaludin | Katadata
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro tengah mengikuti proses pemilihan Presiden International Fund for Agricultural Development (IFAD). Langkah itu memicu kemungkinan berhentinya Bambang sebagai menteri kalau terpilih memimpin lembaga pembiayaan bagi pertanian dunia tersebut.
 
Rencananya, Bambang akan melakukan kampanye bersama para kandidat lainnya di markas IFAD, Roma, Italia, pada pekan depan. Namun, dia masih enggan mengungkapkan materi apa saja akam dipaparkan dalam kampanye tersebut. "Tahapnya minggu depan saya mulai kampanye, seperti apa, ya seperti kampanye," katanya di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/1).
 
Bambang hanya menjelaskan, ada delapan kandidat yang akan memperebutkan kursi Presiden IFAD. Perinciannya, tiga kandidat berasal dari Eropa, dua dari Benua Amerika, dua dari Afrika, dan satu dari Asia yakni dirinya sendiri. "Jadi tujuh (pesaing) total."
 
 
IFAD merupakan lembaga bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan bertujuan memberantas kemiskinan di negara berkembang serta meningkatkan ketahanan pangan. Adapun Presiden IFAD saat ini adalah Kanayo F. Nwanze yang berasal dari Nigeria.
 
Sebelumnya, seorang pejabat di Bappenas mengungkapkan, Menteri Bambang  sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai menteri karena tengah mengikuti seleksi jabatan di lembaga internasional.
 
Namun, kala itu, dia belum mengetahui jabatan yang diincar oleh mantan Menteri Keuangan tersebut. "Konon memang begitu (Bambang mengundurkan diri)," kata pejabat tersebut kepada Katadata, belum lama ini. Sedangkan seperti dikutip dari Bisnis.com pada pekan lalu, Bambang mengatakan akan mundur dari Kepala Bappenas apabila terpilih sebagai Presiden IFAD.

Artikel Terkait
Sementara harga yang diterima petani lada masih rendah.
Tahun ini yang diproyeksikan hanya mencapai US$ 1,5 miliar atau setara Rp 20,2 triliun.
Proyek Sistem Penyediaan Air Minum atau sanitasi diestimasikan memerlukan dana di atas Rp 500 triliun.