“Setelah inagurasi, pelaku pasar akan mulai berekspektasi dan bila tidak terjadi, kita bisa melihat ketidakpastian di pasar.”
bursa saham
bursa saham Agung Samosir|KATADATA

Setelah sempat tertekan jelang konferensi pers Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih Donald Trump, nilai tukar mata uang Asia berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (12/1). Pelaku pasar tak merespons secara berlebihan lantaran Trump memang tak banyak membahas isu-isu ekonomi dalam konferensi pers tersebut.

Hingga pukul 10.00 pagi ini, won Korea memimpin penguatan sebesar 1,08 persen, diikuti Taiwan dolar 0,56 persen, yen Jepang 0,55 persen, dan yuan Cina 0,34 persen. Sedangkan ringgit Malaysia dan bath Thailand menguat 0,27 persen, begitu pula dengan rupiah 0,23 persen, peso Filipina 0,12 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen. Cuma dolar Singapura yang melemah tipis 0,06 persen.

(Baca juga: Mata Uang Asia Terpuruk Jelang Konferensi Pers Presiden Trump)

Sekadar informasi, di luar ekspektasi pelaku pasar, dalam konferensi pers di New York, Rabu (11/1), Trump tak menyampaikan banyak detail tentang kebijakan ekonomi yang akan dijalankannya, termasuk kebijakan proteksionis di bidang perdagangan. Padahal, pelaku pasar berharap memperoleh lebih banyak kejelasan soal itu.

Mengutip Financial Times, jelang konferensi pers, dolar AS menguat 0,8 persen dibanding mata uang lainnya. Namun, setelah sesi tanya jawab dengan Trump berakhir, nilainya turun 0,45 persen. (Baca juga: Bank Investasi Asing Ramal Rupiah Lebih Kebal Tahun Ini)

Vice President of Trading and Derivatives Charles Schwab, Randy Frederick mengatakan, trader dan investor bakal menuntut rencana kebijakan yang lebih konkret dari Trump setelah dia resmi dilantik pada 20 Januari mendatang. “Setelah inagurasi, pelaku pasar akan mulai berekspektasi dan bila tidak terjadi, kita bisa melihat ketidakpastian di pasar,” ujarnya.

(Baca juga: Pertemuan Trump dan Jack Ma Dongkrak Saham Alibaba)

Di tengah penguatan mata uang Asia, indeks harga saham di negara-negara Asia masih bergerak mix. Meski secara umum terpantau menguat lantaran MSCI AC Asia Pacific masih terapreasiasi 0,07 persen. Kenaikan indeks dipimpin S&P BSE 100 Idx di India naik 1,18 persen, diikuti DSE Broad Index di Bangladesh 1,07 persen, Karchi 100 Indeks di Pakistan 1,04 persen, Taiex Index di Taiwan 0,80 persen, dan Sri Lanka Colombo All Sh 0,52 persen.

Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Straight Times Indeks STI di Singapura naik 0,35 persen, dan FTSE Bursa Malaysia KLCI naik 0,32 persen. Adapun Kospi Indeks di Korea Selatan, Hang Seng Index di Hongkong, dan Shanghai SE Composite di Cina naik masing-masing 0,26 persen, 0,07 persen dan 0,04 persen.

Di sisi lain, Topix Index (Tokyo) di Jepang turun 0,77 persen, demikian juga Laos Composite Indeks, HNX Index di Vietnam dan Thai Set 50 Indeks di Thailand yang melemah masing-masing 0,36 persen, 3,35 persen dan 0,19 persen.