Cuitan Trump telah membuat orang-orang pusing. "Bahkan para pekerja senior di Twitter menyatakan menyesal telah bekerja di sana."
Donald Trump
ANTARA/Reuters/Lucas Jackson

Jumlah pengikut atau follower akun Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih, Donald Trump, menembus angka 20 juta pengguna. Meski akan resmi menjadi Presiden AS pada Jumat nanti (20/1), Trump akan tetap rajin mencuit di media sosial tersebut sehingga kini disindir sebagai "Presiden Twitter".

Seorang koresponden Vanity Fair, Nick Bilton, yang juga menulis buku tentang Twitter, menyebut cuitan Trump telah membuat orang-orang pusing. "Bahkan para pekerja senior di Twitter menyatakan menyesal telah bekerja di sana," ujar dia, seperti dilansir CNN, Senin (16/1).

(Baca: Setelah Cina, Pemerintah Meksiko Ancam Balas Kebijakan Trump)

Penggunaan Twitter oleh Trump memang telah menuai kontroversi. Sebab, dia kerap menyerang pihak lain atau lawan politiknya lewat cuitan akun Twitter miliknya. Dalam suatu cuitannya, Trump pernah menyebut acara "Saturday Night Live" sebagai acara televisi yang sangat buruk.

Melalui Twitter, ia pun menuding Direktur CIA John Brennan membocorkan informasi yang memalukan mengenai presiden terpilih Amerika Serikat tersebut. Namun, di sisi lain, Trump menggunakan Twitter untuk menyampaikan ucapannya dalam perayaan Hari Martin Luther King.

Nama Trump meroket di peringkat teratas Twitter belakangan ini, lantaran tingginya frekuensi penggunaan jejaring media sosial tersebut. Berdasarkan penghitungan TwitterCounter, Trump menjadi pengguna di peringkat ke-68 yang paling banyak diikuti.

(Baca: Pemerintah Cina Ancam Serang Balik Kebijakan Trump)

Trump menggunakan Twitter secara rutin. Bahkan, dia juga cukup aktif menggunakan media sosial lainnya. Jika digabungkan, jumlah pengikut Trump di akun Facebook, Instagram, dan Twitter mencapai 46 juta akun pengguna.

Meski begitu, sejumlah pengikut Trump merupakan akun robot atau bot, yang sama sekali tidak pernah melihat konten yang diunggahnya. Trump menggunakan media sosial itu untuk menyampaikan tanggapan, keberatan atas suatu isu, serta pemberitaan.

Namun jumlah pengikut akun Trump belum sebanyak pengikut akun pribadi Presiden Barack Obama yang mencapai 80 juta pengguna. Sementara itu, akun resmi kepresidenan White House, @POTUS, memiliki 13,5 juta pengguna. Padahal, berbeda dari Trump, Obama jarang menggunakan Twitter.

(Baca: Gara-Gara Trump, Miliarder Soros Merugi Rp 13 Triliun)

Sebelumnya, beberapa jam menjelang pemilihan presiden pada November 2016, Trump menyatakan akan mengurangi frekuensinya menggunakan Twitter setelah resmi menjabat Presiden AS. Namun, sepertinya hal itu tidak akan terjadi.

Kepada harian Sunday Times, Trump memberikan penjelasan. "Semula saya berpikir untuk mengurangi penggunaan Twitter, tapi media terus-menerus menyampaikan berita dengan tidak jujur," katanya.

Karena itu, Trump memutuskan untuk terus aktif memanfaatkan Twitter dalam menyebarkan pikirannya. Terlebih, saat ini pengguna Twitter bisa mengirim 280 karakter, bukan lagi 140 karakter, dalam satu unggahan.

Trump pun mengatakan akan tetap menggunakan akun Twitter pribadinya @realDonaldTrump, bukan @POTUS, meski kelak resmi menjabat Presiden Amerika Serikat.