Badrodin diharapkan dapat memandu Grab untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan transportasi pemerintah.
Grab Taksi
Arief Kamaludin|KATADATA

Penyedia aplikasi transportasi online yakni Grab Indonesia pada hari ini mengangkat Badrodin Haiti sebagai Komisaris Utama. Latar belakang Badrodin yang pernah menjabat sebagai Kapori dinilai akan memberi kontribusi positif bagi perusahaan.

Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kamadibrata Ridzki mengatakan bahwa pengangkatan Badrodin memang banyak dipengaruhi latar belakangnya di kepolisian.

Ridzki menjelaskan, sebagai Kapolri Badrodin dinilai berkontribusi terhadap banyak hal, dari anti-terorisme, keamanan, intelijen, hingga manajemen lalu lintas. "Selain itu pak Badrodin memiliki pengalaman bekerja dengan para pemangku kebijakan di pemerintahan," kata Ridzki melalui keterangan resmi Grab yang diterima Katadata, Senin (30/1).

(Baca juga:  Atasi Masalah Transportasi, Jusuf Kalla : Contoh Gojek dan Uber)

Dengan posisinya saat ini, Badrodin akan memiliki tanggung jawab untuk memantau kinerja serta tata kelola Grab Indonesia. Hal ini termasuk melakukan pengawasan terhadap kinerja para direksi.

Ridzki juga berharap Badrodin dapat memandu Grab untuk menyesuaikan diri dengan pelaksanaan kebijakan transportasi pemerintah. "Hal ini seiring evolusi di sektor teknologi serta platform pemesanan kendaraan saat ini," katanya.

Adapun Badrodin mengatakan dirinya siap memberikan masukan kepada Grab sesuai pengalaman dirinya yang bekerja di sejumlah daerah di Indonesia. Untuk diketahui sebelum menjabat sebagai Kapolri, Badrodin juga pernah menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, hingga Banten. "Saya akan memastikan Grab akan menjadi perusahaan panutan yang memiliki akuntabilitas," katanya.

(Baca juga:  Kucurkan Rp 10 Triliun, Honda Jalin Kemitraan dengan Grab)

Badrodin sendiri menjadi Kapolri 16 January 2015 sampai 13 July 2016 menggantikan Sutarman. Adapun posisi Badrodin saat ini telah digantikan oleh Tito Karnavian. Dirinya juga merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) pada tahun 1982 serta Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada tahun 1989.

Sementara, Indonesia merupakan pasar terbesar Grab di Asia Tenggara. Setelah Jakarta, Grab juga merencanakan ekspansi ke kota-kota lainnya di Indonesia. Selain memberikan layanan transportasi, Grab juga berinvestasi dalam layanan GrabPay sebagai platform pembayaran mobile.

Sejak diluncurkan pada 2012, Grab telah berevolusi dari aplikasi pemesanan taksi sederhana menjadi aplikasi pemesanan transportasi darat terbesar di Asia Tenggara. Kini, Grab memiliki 580.000 mitra pengemudi aktif dalam jaringannya. Aplikasi Grab juga telah diunduh di 30 juta perangkat.

(Baca juga: Tambah Armada, Uber Gandeng Taksi Express)

Ameidyo Daud