10 persen orang terkaya mengonsumsi lebih dari 25 persen total konsumsi nasional. Sementara 10 persen masyarakat termiskin hanya dapat mengonsumsi 4 persen.
Kemiskinan
Arief Kamaludin|KATADATA

Ketimpangan antara orang kaya dengan orang miskin di Indonesia masih merentang lebar. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Oxfam dan International NGO Forum on Indonesia Development (lNFlD) mencatat, harta empat orang terkaya di negara ini sama dengan harta yang dimiliki oleh sekitar 100 juta orang miskin.

Harta empat orang terkaya di Indonesia mencapai US$ 25 miliar atau setara Rp 333,8 triliun. Sedangkan total kekayaan 100 juta penduduk miskin di Indonesia sebesar US$ 24 miliar atau sekitar Rp 320,3 triliun.

Juru Bicara Oxfam Indonesia Dini Widiastuti menambahkan ilustrasi mengenai besarnya ketimpangan di Indonesia. Menurut dia, bunga yang didapat dari kekayaan orang terkaya Indonesia bahkan mencapai 1.000 kali jumlah uang yang dibelanjakan penduduk miskin selama setahun.

“Orang terkaya di Indonesia butuh waktu 22 tahun untuk menghabiskan kekayaannya bila ia berbelanja US$ 1 juta (Rp 13,3 miliar) per hari,” ujar dia saat seminar bertajuk "Menuju Indonesia yang Lebih Setara" di Jakarta, Kamis (23/2).

Lebih jauh, kajian Oxfam menunjukkan, 10 persen orang-orang terkaya di Indonesia secara konsisten mengonsumsi lebih dari seperempat total konsumsi nasional. Sementara 10 persen masyarakat termiskin hanya dapat mengonsumsi 4 persen dari total konsumsi. (Baca juga: Sri Mulyani: Ketimpangan Akibat Orang Kaya Mudah Sembunyikan Harta)

Menurut Dini, kondisi ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi selama 15 tahun terakhir terkonsentrasi pada penduduk berpenghasilan tinggi. Pertumbuhan ekonomi mengandalkan tingginya harga komoditas.

Karena itu, pendapatan orang terkaya Indonesia meningkat tinggi. Sedangkan kenaikan pendapatan orang termiskin tidak secepat orang terkaya. Alhasil, total kekayaan 40 persen penduduk miskin cuma mencapai 1,4 persen dari total kekayaan nasional.

Meski begitu, ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi sejak tahun 2000 telah berhasil mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan. Jumlah penduduk miskin turun dari 40 persen menjadi delapan persen pada 2014.

Namun, bila mengacu pada data Bank Dunia, jumlah penduduk amat miskin atau berpendapatan di bawah US$ 1,9 atau setara Rp 25.300 per hari masih tinggi, yaitu mencapai 20 juta orang.

“Bayangkan kalau standar kemiskinan dinaikkan US$ 3,1 per hari (Rp 41.300 per hari), tingkat penduduk miskin naik menjadi 93 juta atau 36 persen dari total penduduk,” kata Dini. (Baca juga: Masalah Lahan jadi Fokus Program Pemerataan Pemerintah)