Tiga negara Eropa yang dimaksud adalah Prancis, Italia, dan Jerman
Agus Bank Indonesia
Arief Kamaludin (Katadata)

Selain kondisi perekonomian Yunani, Bank Indonesia (BI) juga terus memantau kondisi politik beberapa negara Eropa tahun ini. Situasi politik negara-negara tersebut bisa berpengaruh pada perekonomian dunia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan tiga negara Eropa yang dimaksud adalah Prancis, Italia, dan Jerman. Untuk diketahui, tahun ini Jerman dan Prancis akan menggelar pemilihan umum, sedangkan Perdana Menteri Italia Matteo Renzi baru saja lengser pada akhir tahun lalu.

Menurutnya, ada beberapa calon pemimpin ketiga negara tersebut yang berhaluan ekstrim kanan, ikut dalam bursa pemilihan. Mereka cenderung mengusung kebijakan proteksionis. Sehingga ada kekhawatiran mengurangi komitmennya untuk bersatu dengan negara-negara Eropa lain dalam Uni Eropa.

Hal ini bisa berdampak kepada keberlangsungan Uni Eropa dan berujung pada perekonomian dunia. Apalagi Uni Eropa merupakan salah satu tujuan ekspor Indonesia. "Hal itu yang jadi perhatian kami," kata Agus di GOR Pokpi Cibubur, Jakarta, Kamis (23/2). 

(Baca: Aneka Risiko Ekonomi Mengancam, BI Tahan Suku Bunga Acuan)

Agus mengatakan situasi Uni Eropa memang patut diperhatikan saat ini. Selain kondisi politik tiga negara tersebut, masih ada pula kondisi perbaikan ekonomi Yunani yang ternyata tidak seperti yang diharapkan. Risiko gagal bayar utang negara tersebut bakal mengakibatkan perekonomian global kembali dilanda ketidakpastian.

"Mungkin lembaga internasional seperti Intermational Monetary Fund (IMF) juga memperhatikan," kata Agus.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut rasio utang Yunani kini mendekati 200 persen. Sedangkan defisit anggarannya sudah mencapai 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu. (Baca: Sri Mulyani Peringatkan Bahaya Dampak Gagal Bayar Utang Yunani)

Tiga negara yang selama ini membantu membayar utang - Perancis, Jerman, dan Belanda - tengah mengadakan pemilihan umum dan bisa menghambat penyelamatan Yunani. Sri khawatir hal ini memengaruhi pandangan investor terhadap perekonomian dunia termasuk perekonomian negara yang pasarnya tengah berkembang (emerging market), termasuk Indonesia.

Di luar Uni Eropa, BI juga memberi perhatian besar pada Amerika Serikat. Terutama masih adanya potensi kebijakan proteksionisme perdagangan yang akan dilakukan Presiden AS Donald Trump, seperti yang pernah diungkapkannya saat kampanye.

"Kondisi AS masih menjadi perhatian kami karena itu," katanya. Meski Agus juga mengakui Trump bisa saja mengeluarkan kebijakan pro bisnis seperti memotong pajak, deregulasi peraturan, serta mengucurkan anggaran infrastruktur lebih besar lagi.

(Baca: Jokowi Ingin Ekspor ke Afrika, India, Pakistan Ditingkatkan)