Sementara bea keluar CPO tetap dikenakan sebesar US$ 18 per metrik ton.
Kelapa sawit
Petani memanen buah kelapa sawit di salah satu perkebunan kelapa sawit di Desa Delima Jaya, Kecamatan Kerinci, Kabupaten Siak, Riau. Arief Kamaludin|KATADATA

Kementerian Perdagangan kembali menaikkan harga referensi minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) untuk periode ekspor Maret 2017. Di mana, harga referensi ekspor ditetapkan sebesar US$ 825,90 per metrik ton, naik 1,27 persen dari periode Februari 2017 yakni US$ 815,52 per metrik ton.

Penetapan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 11/M-DAG/PER/2/2017 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca juga: Pemerintah Bakal Ubah Skema Subsidi Biodiesel B20)

“Saat ini harga referensi CPO kembali mengalami peningkatan dan tetap berada pada level di atas US$ 800. Untuk itu, Pemerintah mengenakan bea keluar untuk CPO sebesar US$ 18 per metrik ton untuk periode Maret 2017,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan, Jumat (24/2).

Besaran bea keluar ini sama dengan yang berlaku pada periode Februari 2017. Sebelumnya, karena harga referensi masih di bawah US$ 800 per metrik ton, pada Januari 2017 bea keluar CPO hanya US$ 3 per metrik ton.

Grafik: Total Ekspor Seluruh Produk Kelapa Sawit 2014-2016 (data Kuartal)
Total Ekspor Seluruh Produk Kelapa Sawit 2014-2016 (data Kuartal)

Sementara, sepanjang tahun lalu, ekspor CPO hanya dua kali dikenai bea keluar, yakni pada Mei dan Oktober. Sebelum itu, jika dirunut ke belakang, terakhir kali CPO dikenai pajak ekspor karena harganya di atas ambang pengenaan bea keluar US$ 750 per metrik ton adalah pada Oktober 2014.

Selain bea keluar, para eksportir juga tetap harus membayar dana pungutan ekspor sawit (CPO Fund) sebesar US$ 50 per metrik ton CPO dan US$ 30 per metrik ton untuk produk turunannya.

Sementara itu, harga referensi biji kakao pada Maret 2017 turun 4,63 persen dari Februari 2017, yaitu dari US$ 2.212,36 per metrik ton menjadi US$ 2.109,86 per metrik ton.

(Baca juga:  Target Investasi untuk Bangun Industri Hilir Rp 567,31 Triliun)

“Penurunan harga referensi dan HPE biji kakao disebabkan menurunnya harga internasional komoditas terebut. Namun, bea keluar biji kakao tidak berubah dibandingkan periode bulan sebelumnya, yaitu sebesar 5 persen,” kata Oke.

Artikel Terkait
Sistem kemitraan yang dijalin oleh Indogrosir dan pedagang kecil binaannya kemungkinan akan dibakukan dalam sebuah regulasi baru.
Untuk menekan harga bawang putih, peraturan impor juga akan dibenahi sehingga importir wajib menyetorkan data stoknya ke pemerintah.
Penurunan penerimaan bea dan cukai disebabkan menyusutnya perolehan dari bea masuk dan cukai tembakau.