Selain mendorong ekspor barang, Indonesia juga akan mengupayakan pengiriman jasa seperti konstruksi.
raja salman
Presiden Joko Widodo menerima Raja Salman dari Arab Saudi di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu, (01/02). Rusman/Biro Set Pres

Pengembangan perdagangan merupakan satu dari 11 nota kesepahaman yang ditandatangani oleh pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi. kerja sama itu nantinya dapat berbentuk perjanjian perdagangan bebas atau kesepakatan perdagangan untuk produk tertentu.

 “Sudah diangkat pada tingkat Kepala Negara Pak Presiden bersama Sri Baginda (Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud) untuk kita sepakat membuat joint study sebagai tahap awal preferential trade agreement (PTA) atau free trade agreement (FTA)," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (2/3).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Enggar yakin Indonesia memiliki potensi ekspor lebih besar ke arab Saudi. Sebab, meski secara keseluruhan neraca perdagangan defisit, namun Indonesia lebih banyak mengekspor produk nonmigas ke Arab Saudi. "Ekspor kita banyak, mulai minyak sawit, otomotif, kita lebih mendorong yang punya nilai tambah," kata dia.

(Baca juga: Selalu Defisit Dagang, Jokowi Minta Permudah Ekspor pada Raja Salman)

Tak hanya mendorong ekspor barang, pemerintah juga akan mendorong pengiriman jasa ke Arab Saudi. Di antaranya, dengan mendorong kontraktor bangunan baik BUMN (Badan Usaha Milik Negara) maupun swasta untuk mengerjakan proyek pembangunan perumahan di Arab Saudi.

Enggar menyatakan, tahun ini PT Wijaya Karya (Wika) akan mulai membangun 8000 ribu rumah di Arab Saudi dengan nilai US$ 2 miliar. 

Grafik: Ekspor dan Impor Indonesia dengan Arab Saudi 2012-2016
Ekspor dan Impor Indonesia dengan Arab Saudi 2012-2016

Sementara, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani menjelaskan, banyak potensi yang bisa dijadikan investasi bagi para pengusaha Arab Saudi di Indonesia. Sebagai negara berkembang, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki pertumbuhan tinggi di antara negara lain anggota G-20.

"Banyak peluang yang bisa kita kerja sama dengan Arab Saudi di beberapa sektor, seperti halnya infrastruktur, industri manufaktur, pariwisata, pembangkit listrik dan energi baru terbarukan," kata Rosan.

(Baca juga: Raja Salman Pastikan Keterlibatan Saudi Aramco di Kilang Cilacap)

Di sisi lain, Vice Chairman of the Council of Saudi Arabia Chamber of Commerce and Industry Showimy A Aldossari mengungkapkan bahwa perdagangan kedua negara selama ini terkendala oleh hambatan tarif dan non tarif. Selain itu, transportasi barang juga masih terkendala oleh kurangnya pelayaran secara regular antar kedua negara.

“Terutama hambatan kedua negara adalah kurangnya informasi mengenai peluang bisnis yang ada di kedua negara,” katanya.

Berdasarkan data BPS, nilai total perdagangan nonmigas Indonesia-Arab Saudi pada 2016 mencapai US$ 4,05 miliar. Di mana, Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 1,39 miliar.

(Baca juga: Dana Saudi Rp 13,3 Triliun dalam 11 Kesepakatan Jokowi - Raja Salman)

Sepanjang tahun lalu, Indonesia hanya mengekspor produk nonmigas sebesar US$ 1,33 miliar ke Arab Saudi. Sementara, impor kita terdiri dari US$ 2,02 miliar produk migas dan US$ 705 juta nonmigas.

Muhammad Firman
Artikel Terkait
Sebelumnya seluruh retribusi pasar masuk ke Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehingga, dana pengelolaan pasar menunggu anggaran dari daerah.
"Meski CEO untuk Piala Dunia 2022 tidak sempat hadir, kami sudah ada pembicaraan untuk ikut menjadi konsorsium (kontraktor)," ujarnya.
Perjanjian dagang ini diharapkan dapat meningkatkan nilai pedagangan kedua negara dari US$ 1,3 miliar pada 2016 menjadi US$ 10 miliar pada 2023.