Menteri Enggartiasto melihat usaha meningkatkan perdagangan dengan Afsel dan Sri Lanka masih terkendala beberapa hal, terutama terkait tarif.
Jokowi
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Pemerintah berupaya meningkatkan perdagangan Indonesia dengan Srilanka dan Afrika Selatan (Afsel). Kerja sama perdagangan ini menjadi bahasan utama dalam pertemuan bilateral antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan kedua kepala negara tersebut.

Jokowi menerima dua kepala negara yakni Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena pada pukul 10.00 WIB, serta Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma pada pukul 15.00 WIB. Kunjungan kenegaraan tersebut digelar di Istana Merdeka, Rabu (8/3).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Di sela-sela kunjungan kenegaraan tersebut Jokowi serta kedua kepala negara tersebut menggelar pembicaraan bilateral. Dalam dua pembicaraan ini, Jokowi sepakat untuk meningkatkan perdagangan dengan kedua negara dengan beberapa langkah.

Dengan Jacob Zuma, Indonesia dan Afsel sepakat untuk membahas penurunan tarif bagi produk dan komoditas unggulan kedua negara. Sementara dengan Sirisena, Jokowi menjelaskan pemerintah kedua negara akan membuat suatu pakta perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) sebagai penguatan kerjasama kedua negara dalam bidang ekonomi.

"Upaya peningkatan kerjasama perdagangan banyak dibahas dalam pertemuan tadi," kata Jokowi dalam konferensi pers bersama Zuma di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/3). (Baca: Indonesia - Arab Saudi Kaji Kemungkinan Perdagangan Bebas)

Usai acara kenegaraan, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengakui nilai perdagangan Indonesia dengan kedua negara tersebut masih kecil. Ekspor Indonesia ke Afsel saat ini masih mencapai US$ 262 juta, sedangkan ekspor ke Sri Lanka masih mencapai sekitar US$ 260 juta.

Padahal seperti pesan Jokowi, negara-negara ini merupakan negara mitra non tradisional. "Ini negara yang disampaikan pak Presiden sebagai non tradisional," kata Enggartiasto.

Menteri Enggartiasto melihat usaha meningkatkan perdagangan dengan Afsel dan Sri Lanka masih terkendala beberapa hal, terutama terkait tarif. Dia menjelaskan untuk Sri Lanka, Indonesia sepakat membuat preferential trade agreement. Kesepakatan ini merupakan langkah awal menuju pakta perdagangan bebas.

Sedangkan Afrika Selatan harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan negara tetangganya sebelum membuat kesepakatan perdagangan dengan Indonesia. Pasalnya, negara yang pernah dipimpin Nelson Mandela ini terikat dengan keanggotaannya di Southern African Customs Union (SACU).

Makanya, pembicaraan Jokowi dengan Presiden Afrika Selatan terkait perdagangan ini belum bisa selesai dalam pertemuan bilateral tersebut. "Kami akan duduk bersama lagi dengan Afsel," ujarnya.

Enggartiasto mengatakan Afsel tertarik dengan beberapa komoditas Indonesia, seperti daging dan buah-buahan dari Indonesia. Sedangkan Sri Lanka meminati produk otomotif dan produk tembakau seperti rokok. Dia mengatakan potensi komoditas lainnya masih sangat besar di pasar dua negara tersebut.

Pemerintah mengaku baik Zuma maupun Sirisena menyambut baik kerjasama ini. Sirisena berharap hubungan dengan Indonesia dapat berlangsung lebih intensif lagi. Sedangkan Zuma berharap hambatan perdagangan kedua negara dapat dihilangkan.

"Terutama penguatan dalam bisnis, pertanian, perdagangan, investasi, pertahanan, sera menghilangkan hambatan perdagangan," katanya. (Baca: Ekspor Nonmigas Diprediksi Tumbuh 10 Persen Tahun Ini)

Artikel Terkait
PAN mengusung Gatot Nurmantyo karena dianggap sosok dan kepribadian yang dianggap layak menjadi capres atau cawapres.
Pertemuan antara Megawati dan SBY saat perayaan kemerdekaan mendapat pujian. Keduanya bertemu pertama kali dalam perayaan kemerdekaan sejak 13 tahun terakhir.
Importir tembakau bakal diwajibkan menyerap produk lokal dengan proporsi tertentu.