Hanya 16 persen investor yang menilai kondisi politik Indonesia mendukung iklim bisnis dan investasi. Ini melorot dari tahun 2014 yang sebesar 47 persen dan tahun lalu 18 persen.
Gedung
Donang Wahyu|KATADATA

Kepercayaan investor asal Eropa untuk berbisnis di Indonesia terpantau meningkat. Namun, para investor menyoroti stimulus ekonomi yang belum kelihatan dampaknya serta kondisi politik yang tidak stabil di negara ini.

Hal tersebut tergambar dalam survei Indonesia Business Confidence Index (BCI) 2016 yang dilansir oleh lembaga riset Nielson bekerja sama dengan investor Uni Eropa dan Inggris.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Chairman of BritCham dan Vice Chairman of EuroCham Adrian Short menjelaskan, stimulus ekonomi dan deregulasi aturan yang dilakukan pemerintah melalui penerbitan 15 paket kebijakan ekonomi cukup menarik minat investor untuk berinvestasi. “(Tapi) masih terdapat kekhawatiran akan dua hal, yakni paket stimulus ekonomi yang belum cukup memberi dampak bagi investasi dan tumbuh kekhawatiran tentang stabilitas politik dan sosial,” kata di Jakarta, Rabu (8/3) kemarin.

Menurut Adrian, hanya 26 persen investor yang menjadi responden survei tersebut, menganggap implementasi regulasi pemerintah berjalan efektif. “Masih ada tantangan yakni inefisiensi birokrasi dan lingkungan regulasi,” katanya. (Baca juga: BKPM: Ekonomi Indonesia Harus Selalu Seksi untuk Tarik Investor)

Di sisi lain, hanya 16 persen investor yang menilai kondisi politik Indonesia mendukung iklim bisnis dan investasi. Persentase ini lebih rendah dari tahun 2015 yang sebesar 18 persen, bahkan melorot jauh dari tahun 2014 yang mencapai 47 persen. 

Meski begitu, prospek makroekonomi Indonesia menunjukkan tren positif. Hal itu tampak dari lonjakan pendapatan para investor yang menilai iklim investasi di Indonesia sangat baik. Pendapatan tumbuh 43 persen tahun lalu, dari sebesar 35 persen pada 2015. 

Ke depan, menurut Adrian, lebih dari satu per tiga perusahaan yang ada di Indonesia dipercaya akan menambah investasinya dalam dua tahun ke depan. Bahkan, investasi yang dimaksud kemungkinan dilakukan di luar Jakarta.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik. Ia mengatakan, perusahaan asal Inggris sedang mengkaji kemungkinan investasi di beberapa kota lain di Indonesia.

Menurut Moazzam, seiring dengan rencana investasi tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Inggris juga akan membuka kantor di beberapa kota. “Target ekspansi bisnis adalah Surabaya, Bandung, dan Medan,” katanya. (Baca juga: Swedia Minati Pembangkit Tenaga Air dan Angin di Indonesia Timur)

Sekadar informasi, BCI adalah business to business survey yang dilakukan oleh investor Inggris dan Eropa yang berdomisili di Indonesia. Bekerjasama dengan Nielsen, BCI 2016 mengambil sampel sebanyak 148 responden dan dilakukan terhadap responden di Jakarta.  

Artikel Terkait
Kebijakan satu peta untuk memudahkan penyelesaian konflik yang timbul akibat tumpang tindih pemanfaatan lahan.
"Kami pikirkan cara yang lebih progresif supaya tidak harus buat 15 paket lagi tapi satu saja, tapi progresif."
Perbaikan prospek investasi ini juga ditandai dengan dinaikkannya peringkat utang Indonesia oleh S&P menjadi layak investasi.