”Saya diminta Bapak Presiden Jokowi menagih dan memonitor masterplan investasi Coca-Cola di Indonesia sebesar US$ 500 juta, dari 2015 hingga tiga tahun ke depan,” kata Airlangga
Joko Widodo
Presiden Joko Widodo bersiap memimpin rapat terbatas Evaluasi Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (6/3). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong  PT Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) agar segera merealisasikan investasi tambahannya di Indonesia. Perusahaan ini baru merealisasikan 60 persen dari komitmen investasinya.

CCAI berencana menambah investasinya di Indonesia sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 6,7 triliun dalam tiga tahun. Pada 2015, perusahaan ini telah merealisasikan US$ 300 juta dari komitmen tersebut. Pemerintah ingin CCAI segera merealisasikan investasinya yang masih tersisa sebesar US$ 200 juta.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca: Berkat Investasi Swasta, Ekonomi Kuartal I Bisa Tumbuh 5,1 Persen)

”Saya diminta Bapak Presiden Jokowi menagih dan memonitor masterplan investasi Coca-Cola di Indonesia sebesar US$ 500 juta dari 2015 hingga tiga tahun ke depan,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangannya, saat peresmian fasilitas produksi dan pusat distribusi CCAI di Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (9/3).

Saat peresmian tersebut, Airlangga menyampaikan apresiasinya kepada CCAI atas komitmen investasinya yang telah dimulai 2015. Dia berharap CCAI dapat merelisasikan seluruh komitmen investasi yang tersisa tahun ini. Dengan masuknya investasi baru dari CCAI, maka target investasi industri 2017 sebesar Rp 500 triliun, bisa tercapai.

(Baca: Menperin: Cukai Plastik Bisa Turunkan Pertumbuhan Industri)

Selain itu Airlangga juga meminta CCAI untuk ikut terlibat mendukung program pemerintah dalam pelaksanaan pendidikan vokasi. Setidaknya CCAI bisa memberikan fasilitas pelatihan sumber daya manusia (SDM) Indonesia, sesuai dengan kebutuhan perusahaannya. 

Presiden Direktur CCAI Kadir Gunduz mengatakan perusahaannya akan terus mendukung agenda pemerintah dalam mendorong kinerja industri nasional khususnya sektor makanan dan minuman. Makanya, CCAI menggelontorkan dana sekitar US$ 42 juta untuk pembangunan Mega Distribution Center Pandaan sebagai gudang penyimpanan berkapasitas 40 juta botol. Kemudian fasilitas produksi pengolahan preform (pembutan botol kemasan plastik) berkapasitas 1 miliar unit per tahun.

“Fasilitas baru ini menciptakan keterampilan proses produksi dari para karyawan CCAI, yang setara dengan proses produksi kelas dunia,” katanya. (Baca: Industri Dapat Insentif dari Pemerintah untuk Tingkatkan SDM

Menurutnya, CCAI memiliki komitmen kuat dalam investasi SDM, melalui pembangunan fasilitas dan penerapan teknologi. Misalnya, akademi pelatihan pertama CCAI didirikan di Jawa Timur, yang keberhasilannya mampu memperluas bisnis di Indonesia. Saat ini, CCAI menjalankan tujuh akademi pelatihan di enam functions dan mengadakan 35 ribu training days setiap tahun.

CCAI merupakan perusahaan yang memproduksi dan mendistribusikan produk-produk dengan merek dagang dari lisensi The Coca-Cola Company. Saat ini CCAI telah memiliki 8 pabrik pembotolan di Cibitung, Cikedokan, Medan, Lampung, Bandung, Semarang, Surabaya dan Denpasar. Seluruh pabrik ini memiliki total 37 lini produksi dan 5 lini perform yang mampu menyerap 11 ribu orang tenaga kerja. CCAI telah memiliki 3 pusat distribusi besar, yakni di Medan, Cibitung, dan Semarang, serta melayani sekitar 765 ribu konsumen langsung.

Investasi industri makanan dan minuman di Indonesia terlihat cukup menarik di mata investor. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat industri makanan dan minuman mendominasi rencana investasi manufaktur pada 2015. Pengajuan izin prinsip di sektor makanan dan minuman sepanjang periode tersebut mencapai Rp 184,92 triliun atau 32,31 persen dari total keseluruhan rencana investasi di sektor manufaktur.

 

Artikel Terkait
"Semua perizinan, rantai pasok, dan infrastruktur penunjang sudah disiapkan," kata Airlangga.
Berstatus buronan KPK, Setya Novanto kembali dirawat di rumah sakit akibat sebuah kecelakaan.
Pengenaan cukai itu dapat menaikkan harga jual minuman berpemanis.