Walaupun tahun lalu Indonesia mencatat surplus, namun tren perdagangan dengan Cile dalam lima tahun terakhir (2012-2016) mengalami penurunan sebesar 12,1 persen.
Pelabuhan Ekspor
Katadata

Pemerintah membidik Negara-negara di kawasan Amerika Latin sebagai pasar bagi komoditas ekspor Indonesia. Cile akan dijadikan mitra strategis sekaligus pintu masuk melalui Indonesia-Cile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC CEPA).

"Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Chile telah melaksanakan Perundingan Putaran Kedua dalam perdagangan barang (Trade in Goods / TIGs) IC CEPA pada 13-14 Maret 2017 di Jakarta," kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo, Selasa (14/3).

Iman menegaskan perundingan ini memiliki arti strategis bagi Indonesia dalam meningkatkan hubungan Indonesia di kawasan Amerika Latin. Kawasan ini merupakan pasar potensial di antara pasar nontradisional.

(Baca juga: Jokowi Ingin Tingkatkan Perdagangan dengan Afsel dan Sri Lanka)

"Cile merupakan penghubung atau hub dalam menerobos pasar kawasan Amerika Latin dengan produk domestik bruto per kapita US$ 12,9 ribu dan interkonektivitas yang lebih baik dengan negara-negara lainnya," kata Iman.

Putaran kedua ini merupakan tindak lanjut pertemuan bilateral Menteri Perdagangan RI dan Menteri Luar Negeri Cile di sela-sela pertemuan para menteri perdagangan APEC pada November 2016 di Lima, Peru. Kedua Menteri saat itu sepakat untuk mengaktifkan kembali perundingan IC CEPA setelah sebelumnya diselenggarakan pada 23-24 Mei 2014 di Santiago, Cile.

Perundingan putaran kedua akan mengadopsi pendekatan incremental (bertahap), yaitu fokus pada perundingan perdagangan barang. Perundingan akan dibagi ke dalam 4 Kelompok Kerja yang masing-masing membahas tema perdagangan barang, peraturan mengenai asal atau  rules of origin (ROO) dan prosedur kepabeanan, aspek hukum, serta yang terakhir adalah kerja sama secara umum.

(Baca juga: Temui Jokowi, WNI Pertama Bos Toyota Dukung Proyek Infrastruktur)

Iman menambahkan, Cile merupakan negara yang cukup proaktif dalam kebijakan perdagangan internasional karena memiliki 28 perjanjian dagang dengan lebih dari 60 negara. Negara negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam telah terlebih dahulu merasakan manfaat perjanjian perdagangan dengan Cile. “Dengan IC CEPA ini Indonesia akan segera berada dalam koridor yang sama dalam persaingan di pasar Cile,” kata Iman.

Total perdagangan Indonesia-Cile pada 2016 sebesar US$ 227,15 juta. Saat itu, nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 143,81 juta dan impor US$ 83,34 juta. Walaupun tahun lalu Indonesia mencatat surplus, namun tren perdagangan dengan Cile dalam lima tahun terakhir (2012-2016) mengalami penurunan sebesar 12,1 persen.

Beberapa produk ekspor utama Indonesia ke Cile adalah alas kaki, otomotif, produk turunan sawit, seperti margarin dan minyak sayur. Sedangkan impor utama Indonesia dari Cile adalah tembaga dan pakan ternak ikan.

(Baca juga: Perusahaan Tekstil Austria Akan Ekspansi Rp 4,2 triliun)