"Dari total investasi, paling besar ke DKI Jakarta, lalu kedua Sumatera Selatan, serta ketiga di Banten."
Proyek tol
Arief Kamaludin|KATADATA

Indonesia menjadi negara tujuan investasi nomor satu para pengusaha Singapura. Meski begitu, para investor negeri jiran tersebut mengeluhkan sejumlah masalah yang dihadapinya saat menanamkan modal di Indonesia.

Berdasarkan data Singapore Business Federation tahun 2016, Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara yang menarik untuk investasi. Posisi tersebut naik dari tahun sebelumnya yang berada di peringkat ketiga.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Posisi pertama itu tercermin dari nilai investasi Singapura di Indonesia yang selalu menempati posisi pertama selama lima tahun berturut-turut. Tahun lalu, realisasi investasi Singapura di Indonesia mencapai US$ 9,1 miliar. Sedangkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi Singapura selama lima tahun terakhir mencapai US$ 30.1 miliar.

Menurut Duta Besar Indonesia untuk Singapura, I Gede Ngurah Swajaya, investasi terbesar negara singa itu mengalir ke DKI Jakarta. "Investasinya total paling besar ke DKI Jakarta, lalu kedua Sumatera Selatan, serta ketiga di Banten," katanya dalam acara Grand Launching Indonesia Investment Week - Singapore Chapter 2017 di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Selasa (14/3).

(Baca: Jokowi Tagih Komitmen Investasi Coca Cola Rp 6,7 Triliun)

Meski begitu, dia mengungkapkan sejumlah keluhan yang disampaikan oleh investor Singapura. Pertama, masalah lahan. Swajaya mencontohkan, ada perusahaan dari Singapura yang berkomitmen investasi hingga US$ 400 juta. Namun, hal tersebut urung terlaksana hingga 3 tahun karena masalah lahan. "Ternyata (perubahan) tata ruangnya belum selesai."

Kedua, masalah pembiayaan dan kualitas produk ekspor asal Indonesia. Swajaya mengatakan, pengusaha Singapura masih kerap mempertanyakan konsistensi eksportir Indonesia, terutama dari sisi kemasan dan kualitas produk. "Belum lagi waktu pengiriman kita yang dianggap masih lemah," katanya.

Masalah ketiga adalah pasokan listrik yang dianggap belum mumpuni untuk mendukung operasional usahanya di Indonesia. Keempat, persoalan pariwisata. Menurut Swajaya, banyak turis asal Singapura yang mempermasalahkan keamanan tempat wisata di Indonesia, seperti banyaknya aksi pencopetan.

"Lalu mereka (turis Singapura) masih mengeluhkan koneksi internet (yang lambat) dan makanan yang higienis," katanya. (Baca: Dua Kekhawatiran Pengusaha Eropa Berinvestasi di Indonesia)

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengendalian Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis mengamini pernyataan Swajaya. Ia mengaku sering menerima keluhan soal lahan dan lamanya perizinan.

Selain itu, Azhar menyoroti kemampuan daerah dalam menarik investor luar negeri, seperti Singapura. Penyebabnya, pemerintah daerah kerap memberikan data potensi ekonomi yang kurang mendalam sehingga membuat investor kurang tertarik. "Biasanya terjadi pada daerah yang jarang dijadikan tujuan investasi."

Artikel Terkait
Dengan adanya peta jalan e-commerce, pengusaha juga meminta peraturan pajak transaksi online disederhanakan.
"Sekarang kami lagi coba lihat bagaimana supaya mendapat harga yang lebih murah," kata Luhut.
Paket itu memuat “program besar” untuk mendorong laju investasi di Indonesia karena memuat satu model percepatan proses sinkronisasi kebijakan dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.