Bank sentral Amerika Serikat diproyeksi bakal menaikkan bunga dana sebesar 0,25 persen. Rupiah berisiko melemah ke kisaran 13.400-an per dolar AS.
IHSG
Arief Kamaludin|KATADATA

Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), akan mengumumkan kebijakan moneternya terkait bunga dana (Fed Fund Rate) pada Rabu (15/3) waktu setempat. Konsensus pasar memperkirakan Fed Fund Rate bakal naik 0,25 persen. Menjelang pengumuman tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah bergerak mix dan cenderung melemah.

Dalam perdagangan Rabu pagi, IHSG dibuka menguat hingga sempat mencapai level 5.447 atau naik 0,29 persen, melanjutkan penguatan 0,41 persen di hari sebelumnya. Namun, penguatan tak berlangsung lama, IHSG terus bergerak turun hingga ditutup di level 5.432 atau hanya menguat 0,01 persen. Di sisi lain, nilai tukar rupiah ditutup turun 0,04 persen ke level Rp 13.363 per dolar AS. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, pelaku pasar merespons positif data perekonomian dalam negeri yaitu neraca perdagangan Februari yang mencatatkan surplus sebesar US$ 1,32 miliar. Namun, pasar cenderung melemah lantaran tengah menunggu pengumumkan Fed Fund Rate.

Overall rupiah masih dalam rentang konsolidasi. Event (perhelatan) The Fed pada Kamis dini hari yang membuat rupiah masih bergerak sideways (datar),” kata dia kepada Katadata, Rabu (15/4). (Baca juga: Kenaikan Bunga The Fed Diramal Tak Picu BI Kerek Bunga Acuan)

Namun, Ariston mengatakan, kebijakan The Fed berpotensi memicu pelemahan rupiah dalam waktu dekat. Ia meramalkan, rupiah bisa melemah ke posisi Rp 13.450 per dolar AS. Tapi, ia yakin rupiah bisa menguat kembali ke posisi di bawah Rp 13.400 per dolar AS. (Baca juga: DBS Ramal Bunga The Fed Naik 4 Kali, Rupiah Terancam Melemah)

Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya memperkirakan, pergerakan IHSG juga belum akan menunjukkan penguatan yang berarti. Alasannya, level support yang berhasil ditempati IHSG masih stagnan atau belum menunjukkan kenaikan. Itu artinya pasar masih menunggu dan melihat (wait and see) adanya sentimen baru dari eksternal ataupun internal. 

“Saya perkirakan IHSG bergerak di level 5.352-5.476 besok (setelah keputusan The Fed),” tutur William. (Baca juga: Bunga The Fed Naik, Gubernur BI Yakin Investor Asing Tak Kabur)

Menjelang pengumuman Fed Fund Rate, indeks utama di bursa Asia juga cenderung melemah. Topix Indeks (Tokyo) di Jepang turun 0,23 persen, demikian juga Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 0,15 persen, dan indeks Kospi di Korea Selatan turun 0,04 persen. Namun, indeks CSI 300 di Cina tercatat naik 0,20 persen.

Mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS. Pelemahan dipimpin Taiwan dolar yaitu sebesar 0,53 persen, disusul won Korea 0,46 persen, dolar Singapura 0,21 persen, rupee India 0,19 persen, serta bath Thailand 0,14 persen.

Adapun, mata uang Asia lainnya yaitu rupiah, ringgit Malaysia, yuan Cina, yen Jepang, dan peso Filipina turun tipis, kurang dari 0,1 persen. Hanya Hong Kong dolar yang menguat 0,03 persen.  

Artikel Terkait
Bank Indonesia (BI) memastikan nilai tukar rupiah saat ini tidak merugikan daya saing ekspor dan meningkatkan impor secara berlebihan.
Prediksi nilai tukar rupiah yang melemah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, di antaranya kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) dan bank sentral Eropa.
Penguatan rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal, karena kondisi ekonomi negara-negara maju belum sesuai harapan.