Dibanding negara penghasil minyak lainnya, seperti Nigeria, Rusia, atau Afrika Selatan, kondisi ekonomi Indonesia diklaim lebih baik. Pun bila dibandingkan dengan negara ekonomi berkembang.
Sri Mulyani
Arief Kamaludin | Katadata

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan minat investor asing untuk berinvestasi di Indonesia masih besar. Bahkan, investor SUN dari Amerika Serikat (AS) menyatakan lebih berminat untuk berinvestasi pada SUN Indonesia dibanding SUN sederet negara berkembang lainnya. Para investor menyampaikan hal itu saat bertemu Sri Mulyani di AS, pekan lalu.

"Pemegang bonds Indonesia (SUN) sangat senang dengan prospek Indonesia dan percaya dengan kebijakan yang diambil pemerintah," ujar dia saat acara Stakeholder Gathering Kemenkeu di Kantornya, Jakarta, Selasa (14/3) malam. "Indonesia dianggap sebagai emerging market (negara yang pasarnya tengah berkembang) yang potensinya cukup menjanjikan." 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurut dia, para investor memandang positif pertumbuhan ekonomi domestik yang sebesar 5,02 persen tahun lalu, jauh lebih baik dibanding negara yang tergabung dalam G20 ataupun ASEAN. "Ini (pertumbuhan ekonomi 5,02 peren) pencapaian yang bisa dikatakan momentum balik karena empat tahun berturut-turut produk domestik bruto (PDB) Indonesia terus menurun. Dibanding G20 atau ASEAN, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 10 tahun cukup tinggi," ujarnya.

Bila dibanding negara penghasil minyak lainnya, seperti Nigeria, Rusia, atau Afrika Selatan, kondisi ekonomi Indonesia juga diklaim Sri Mulyani lebih baik. Demikian juga bila dibandingkan dengan negara emerging market lainnya, seperti Brazil dan Meksiko. 

Di sisi lain, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga terjaga di kisaran 2,46 persen tahun lalu. Data-data ini, kata dia, menunjukkan bahwa instrumen fiskal saja sudah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi. (Baca juga: Belanja Negara Terbatas, Darmin Yakin Ekonomi Kuartal I Tak Jelek)

Adapun, neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan juga dalam tren yang membaik. Persoalannya hanya pada penerimaan negara yang masih seret. Selain itu, respons Bank Indonesia (BI) dalam menghadapi ketidakpastian dunia yang bisa berimbas pada kenaikan suku bunga ataupun inflasi dan nilai tukar rupiah.

Sebelumnya, Gubernur BI Agus DW. Martowardojo menyebut ada lima tantangan eksternal baru yang jadi perhatian BI. Tantangan yang dimaksud yakni kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate; pemakzulan Presiden Korea Selatan; tren perlambatan ekonomi Cina; berlanjutnya penurunan harga minyak dunia yang kembali ke posisi di bawah US$ 50 per barel; dan pemilihan umum di beberapa negara Eropa.

Meski demikian, ia yakin investor tetap berminat untuk berinvestasi di Indonesia meski di tengah ketidakpastian global. Penyebabnya, bukan hanya karena fundamental ekonomi yang baik, tetapi juga imbal hasil (return) yang didapat investor tinggi. Dalam catatannya, dana asing masuk (capital inflow) ke Indonesia hingga minggu kedua Maret sebesar Rp 31 triliun. (Baca juga: Bunga The Fed Naik, Gubernur BI Yakin Investor Asing Tak Kabur)

Bila pun terjadi pembalikan dana ke AS karena naiknya Fed Fund Rate, ia yakin cadangan devisa (cadev) bisa menjadi bantalan yang cukup kuat. Apalagi, cadangan devisa juga terus meningkat hingga mencapai US$ 119,9 miliar pada akhir Februari lalu. Besarnya cadangan devisa bisa memberikan keleluasaan bagi BI dalam melakukan intervensi di pasar surat utang dan pasar uang.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan pun yakin investor akan tetap tertarik berinvestasi di Indonesia meski Fed Fund Rate naik. Alasannya, jika Fed Fund Rate naik tiga kali tahun ini ke level 1,5 persen, maka masih ada selisih 3,25 persen dengan BI 7 Days Repo Rate yang saat ini berada di level 4,75 persen.

Selain itu, kupon SUN yang ditawarkan pemerintah juga lebih menarik yakni di kisaran tujuh hingga delapan persen, jauh di atas surat berharga AS tenor (US Treastury) 10 tahun yang hanya sekitar dua persen. (Baca juga: Indonesia Tujuan Investasi Pertama Singapura dengan Banyak Keluhan)

Selain ditopang oleh besarnya imbal hasil (yield) yang ditawarkan, aliran masuk dana asing juga masih akan ada karena fundamental ekonomi yang masih baik. Apalagi dua lembaga pemeringkat internasional – Fitch Ratings dan Moody’s Investor Service – juga sudah memberikan peringkat (rating) layak investasi untuk surat utang Indonesia dengan prospek positif.

Artikel Terkait
Kajian ini akan dibahas lebih lanjut dalam Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Bank indonesia di Bandung pada 26-27 September 2017
Menteri Keuangan Sri Mulyani berpolemik dengan mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli terkait pelaporan ponsel dalam SPT tahunan.
"Saya bersama Strive Masiyiwa dari Zimbabwe, dipilih menjadi co-chairs inisiatif global ini selama dua tahun ke depan," kata Sri