BKPM telah mengumumkan target investasi sebesar Rp 840 triliun pada tahun 2018.
Sri Mulyani
Arief Kamaludin|KATADATA

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa investasi harus tumbuh minimal 8 persen agar pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6,1 persen pada tahun depan.

Sri Mulyani menjelaskan investasi diharapkannya datang dari berbagai sumber. Namun, yang paling diharapkan adalah dari swasta, baik dalam maupun luar negeri. Sedangkan investasi lainnya dapat datang dari belanja modal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta pasar modal.

(Baca juga: Jokowi Minta Indikator Kemudahan Usaha Dibenahi Lebih Detail)

"Tadi ditekankan Presiden (Joko Widodo) bahwa skenario pertumbuhan apapun perlu investasi lebih besar," kata Sri Mulyani usai Sidang Kabinet Paripurna yang membahas pagu indikatif Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2018.

Grafik: Jumlah Investasi 2016 Menurut Sekto

Sedangkan dari sisi risiko fiskal, Sri Mulyani memperkirakan defisit dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun depan akan berada pada rentang 2 hingga 2,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dirinya menyebut angka perkiraan defisit ini masih wajar.

"Kami berharap keseimbangan primer bisa turun ke angka 0,5 persen dengan belanja produktif dan rasio pajak 11 persen," katanya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution beranggapan pertumbuhan ekonomi tahun ini pun bisa lebih besar dari 5,1. Dia mengatakan pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai 5,8 persen jika didukung investasi yang mumpuni.

(Baca juga:  100 Tahun Merdeka, Sri Mulyani Ramal Pendapatan Rakyat Rp 400 Juta)

"Bisa bergerak 5,4 sampai 5,7 persen, bahkan 5,8 persen, supaya bisa jadi pertumbuhan ekonomi 2018 (6,1 persen)," kata Darmin, Februari lalu.

Sementara, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 670 triliun di tahun 2017, dan Rp 840 triliun pada tahun 2018.

Angka –angka tersebut terus menunjukkan peningkatan dari realisasi investasi sepanjang 2016 yang mencapai Rp 612,8 triliun atau 12,4 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan realisasi investasi pada 2015 yakni Rp 545,4 triliun.

Ameidyo Daud