IHSG melesat dan nilai tukar rupiah menguat. “Sebelumnya, diperkirakan local currency dan bursa saham itu akan melemah, itu tidak terjadi," kata Asisten Gubernur BI Doddy Budi Waluyo.
Bank Indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA

Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan (BI 7-Day Repo Rate) di level 4,75 persen. Langkah tersebut diambil setelah pasar merespons positif kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang menaikkan bunga dananya (Fed Fund Rate).

Gubernur The Fed Janet Yellen mengumumkan kenaikan Fed Fund Rate sebesar 0,25 persen pada Rabu (15/3) waktu setempat. Setelah pengumuman tersebut, bursa saham dunia bergairah dan mayoritas mata uang dunia juga menguat atas dolar Amerika Serikat. Kondisi ini juga dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Dalam perdagangan hari ini, IHSG ditutup naik 1,58 persen ke level 5.518 dan rupiah menguat 0,13 persen menjadi Rp 13.346 per dolar AS. Melihat kondisi pasar seperti ini, BI pun memertahankan suku bunga acuan. Begitu pula dengan bunga fasilitas pinjaman (lending facility) dan fasilitas simpanan (deposit facility), masing-masing 5,5 persen dan 4 persen.

“Keputusan ini konsisten dengan upaya BI menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan di tengah ketidakpastian global. Kami tetap cermati sejumlah risiko dalam jangka pendek ke depan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Gedung BI, Jakarta, Kamis (16/3). (Baca juga: Kenaikan Fed Rate Tak Bahaya, BI Diharapkan Tahan Bunga Acuan)

Tirta juga menegaskan bahwa instansinya tetap memerhatikan risiko global, seperti kenaikan inflasi, arah kebijakan ekonomi dan perdagangan AS, dampak kelanjutan kenaikan Fed Fund Rate, dan geopolitik Eropa. Selain itu, BI juga mewaspadai risiko domestik, yaitu dampak penyesuaian harga yang diatur pemerintah (administered prices) terhadap inflasi.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Doddy Budi Waluyo berpandangan, penguatan IHSG dan rupiah menunjukkan pelaku pasar sudah mengantisipasi kenaikan Fed Fund Rate. Alhasil, tidak ada kekhawatiran dengan kebijakan moneter di Negeri Paman Sam tersebut.

“Sebelumnya, diperkirakan local currency (mata uang lokal) dan bursa saham itu akan melemah, itu tidak terjadi. Ini kami lihat masih positif,” ujar Dody. (Baca juga: Rupiah dan Bursa Saham Melejit Pasca Kenaikan Bunga The Fed)

Selain karena sudah diantisipasi pasar, ia yakin penguatan IHSG dan rupiah juga ditopang oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih baik. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,02 persen dan inflasi terjaga di level 3,02 persen. Inflasi memang sempat menunjukkan peningkatan pada Januari tahun ini, namun turun pada Februari.

Artikel Terkait
BI masih mewaspadai risiko global, terutama yang berasal dari Amerika Serikat (AS), serta risiko domestik berupa konsolidasi korporasi dan perbankan yang berlanjut.
“Stands global: tightening. Menurut saya BI dan bank sentral di negara emerging market masih berhati-hati,” kata Ekonom Bank Permata Yosua Pardede.
Pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan inflasi yang terkendali diprediksikan akan meningkatkan kredit di semester kedua 2017.