“Yang kami amati apakah itu permanen atau temporer (sementara)?” kata Asisten Gubernur BI Doddy Budi Waluyo.
Migas
Katadata

Hambatan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun ini bukan hanya akibat seretnya belanja pemerintah, tapi juga penurunan harga minyak dunia. Bank Indonesia (BI) memantau harga minyak dunia turun seiring dengan meningkatnya pasokan dari Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, kenaikan harga minyak dunia pada akhir tahun lalu telah mengerek harga komoditas sumber daya alam (SDA). Alhasil, pendapatan masyarakat khususnya di wilayah penghasil komoditas pun meningkat. Imbasnya, kegiatan bisnis dan konsumsi masyarakat di wilayah tersebut makin bergairah. (Baca juga: Jokowi Berharap Proyek Infrastruktur Angkat Perekonomian Kaltim)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

“Produsen atau petani di wilayah timur alami kenaikan pendapatan karena ekspor komoditas yang terefleksi dari kenaikan konsumsi dan sales (penjualan) kendaraan bermotor yang naik,” kata Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo di Jakarta, Kamis (16/3). Penjualan semen dan alat berat juga meningkat.

Mengacu pada data Bloomberg, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) sempat mencapai US$ 54 per barel pada akhir Februari lalu, namun kemudian terus melorot. Jumat (17/3) siang ini, WTI diperdagangkan US$ 48,85 per barel.

Di sisi lain, harga minyak Brent Crude (ICE) sempat mencapai US$ 57 per barel pada Januari, namun saat ini harganya hanya US$ 51,79 per barel.

Menurut Doddy, dampak kondisi ini terhadap laju perekonomian terus jadi perhatian BI. Sejauh ini, peluang berlanjutnya penurunan minyak dunia masih berimbang alias 50:50. Maka itu, BI belum mengubah prediksinya bahwa ekonomi mampu tumbuh di kisaran 5-5,4 persen tahun ini. (Baca juga: Jokowi Berharap Proyek Infrastruktur Angkat Perekonomian Kaltim)

“Yang kami amati apakah itu permanen atau temporer (sementara)? Sekarang ekonomi dunia positif dari AS, Cina memang turun tapi tetap pada level yang tinggi. Itu asumsi tidak ada shock signfikan di global maka kenaikan demand (permintaan) di (produk) SDA,” tutur dia. 

Sebelumnya, Gubernur BI Agus Martowardojo memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa di bawah 5,05 persen pada kuartal I 2017. Seretnya belanja pemerintah menjadi alasan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi di tiga bulan pertama ini. "Di kuartal pertama kami lihat perlu ada koreksi pertumbuhan ekonomi di bawah 5,05 persen," kata Agus.

Ia menjelaskan, lambatnya pertumbuhan ekonomi tidak lepas dari pengurangan belanja pemerintah pada semester II tahun lalu. Padahal, kontribusi belanja pemerintah sangat penting dalam menyokong pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kemungkinan tumbuh lima persen di kuartal I 2017. Ini artinya, lebih tinggi dibanding realisasi periode sama tahun lalu yang hanya mencapai 4,92 persen. (Baca juga: Belanja Negara Terbatas, Darmin Yakin Ekonomi Kuartal I Tak Jelek)

Ada dua faktor yang menyebabkan perekonomian bisa tumbuh lebih baik di awal tahun ini. Pertama, ekspor yang membaik seiring dengan naiknya harga beberapa komoditas. Kedua, panen yang terjadi pada kuartal I 2017 yang akan mendorong pertumbuhan sektor pertanian.

Sementara itu, hambatannya masih sama dengan tahun lalu, yakni dari sisi anggaran yang masih minim. “Tapi saya lihat kok Kuartal I enggak jelek, masih lebih baik dari tahun lalu. Dulu (pertumbuhan ekonomi) 4,92 persen, sekarang bisa lima persen (di kuartal I 2017),” ujar dia. 

Secara keseluruhan, ia melihat pertumbuhan ekonomi masih bisa ditopang oleh konsumsi masyarakat, ekspor, dan investasi swasta. “Semua indikator itu bergabung, jadi ya enggak jelek-lah (pertumbuhan ekonomi) kuartal I 2017,” tutur Darmin.

Artikel Terkait
Meski utang lebih tinggi dibanding aset, BI memandang perkembangan posisi investasi internasional Indonesia pada kuartal I tahun ini masih cukup sehat.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan sederet risiko ekonomi ke depan, dari mulai konflik negara Teluk, kebijakan dagang Amerika, hingga keterbatasan anggaran pemerintah.
Tempat penukaran uang pecahan disediakan di sejumlah kota besar dan daerah terpencil.