“Yield (imbal hasil) obligasi kemarin turun walau Fed Rate naik, secara valuasi (nilai) bond (obligasi) Indonesia seksi,” kata Ekonom Adrian Panggabean.
Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Kenaikan bunga dana bank sentral Amerika Serikat (Fed Fund Rate) nyatanya tak mendorong arus keluar modal asing (capital outflow) dari pasar keuangan. Sebaliknya, investor asing disebut-sebut justru memburu surat utang Indonesia.

Ekonom CIMB Niaga Adrian Panggabean mengatakan, imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) stabil di level 7,4 persen meski Fed Fund Rate naik 0,25 persen pada Rabu (15/3). Bahkan, yield SUN tenor 10 tahun menunjukkan tren penurunan. Ini artinya, permintaan pasar akan obligasi pemerintah meningkat.

Yield obligasi kemarin turun walau Fed Rate naik, secara valuasi (nilai) bond (obligasi) Indonesia seksi,” ujar Adrian kepada Katadata, Jumat (17/3). (Baca juga: Indonesia Berpeluang Segera Raih Peringkat Layak Investasi dari S&P)

Menurut dia, nilai tukar rupiah yang stabil di kisaran Rp 13.300 per dolar Amerika Serikat (AS) juga turut meningkatkan keyakinan investor untuk menempatkan dananya di berbagai instrumen investasi lokal, termasuk SUN. Sebab, risiko investasi di Indonesia menjadi terkendali.

Stabilitas nilai tukar rupiah juga membuat valuasi (nilai) saham dan obligasi di Indonesia lebih baik. Alhasil, banyak investor yang memburu instrumen investasi tersebut karena mengharapkan keuntungan tinggi ke depannya. (Baca juga: IHSG Cetak Rekor di Tengah Merosotnya Bursa Saham di Asia)

Yang terjadi saat ini, menurut Adrian, Indonesia dan India bersaing menjadi yang terseksi menawarkan keuntungan yang tinggi kepada investor. Sedangkan dibanding negara ASEAN lainnya, Indonesia dinilainya lebih baik. (Baca juga: Sri Mulyani: Investor Amerika Lebih Minati Surat Utang Indonesia)

“Orang di sektor finansial itu rasional, lihatnya uang (keuntungan). Kami ukur risikonya benar atau enggak. Di Eropa kan ditawarkan nol atau negatif, di Indonesia sekitar 7,4 persen. Kalau cuma masalah politik seperti kasus Ahok, investor yakin Indonesia enggak akan runtuh,” ucapnya.

Dengan perkembangan ini, menurut dia, beban utang pemerintah juga semestinya tidak meningkat. Sebab, pemerintah belum perlu menawarkan kupon yang tinggi kepada investor agar tertarik dengan surat utangnya. 

Sebelumnya, Direktur Strategi dan Portfolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Scenaider Clasein H. Siahaan mengakui risiko peningkatan beban utang pemerintah bila Fed Fund Rate naik.

Kenaikan Fed Fund Rate bisa mendorong membengkaknya biaya utang baru pemerintah. Sebab, pemerintah terpaksa menaikkan kupon surat utangnya agar menarik. Ujung-ujungnya, ke depan, beban bunga utang yang harus dibayarkan pemerintah pun naik. (Baca juga: Efek The Fed, Biaya Utang Luar Negeri Bisa Naik dalam 3 Tahun)

Di sisi lain, beban pembayaran utang lama juga sempat dikhawatirkan meningkat, sebab, bila Fed Fund Rate naik maka nilai tukar AS berpotensi makin perkasa, sebaliknya rupiah melemah. Alhasil, nilai utang yang harus dibayarkan pemerintah menjadi besar.

Kendati begitu, Scenaider menjelaskan, pemerintah tak bisa menunda-nunda pembayaran dan penerbitan utang. “Kalau bayar, ya bayar saja. Karena bunga (kupon) itu turun naik. Enggak bisa ditungu-tunggu,” ujar Scenaider.

Tahun ini, pemerintah merencanakan utang sebesar Rp 384,7 triliun untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Angka tersebut naik Rp 13,1 triliun dari tahun lalu. Adapun, untuk pembayaran bunga utang sebesar Rp 221,4 triliun, naik Rp 30,4 triliun dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016.