Sejak dikenakan bea masuk anti dumping, ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa turun 72,34 persen per tahun, dari US$ 635 juta pada 2013 menjadi US$ 9 juta pada 2016.
biodiesel
Arief Kamaludin | Katadata

Indonesia akan menggugat Uni Eropa di Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body) Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization / WTO). Pemerintah menilai Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) untuk biodiesel yang ditetapkan Uni Eropa telah merugikan Indonesia.

Kementerian Perdagangan mencatat, sejak dikenakan bea masuk anti dumping, ekspor biodiesel dari minyak sawit Indonesia ke Uni Eropa turun 72,34 persen per tahun dari US$ 635 juta pada 2013 menjadi US$ 9 juta pada 2016. Nilai bea masuk yang ditetapkan cukup besar yaitu 8,8-23,3 persen (EUR 76,94-178,85) per ton.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

“Kami siap menyampaikan gugatan pada pertemuan pertama pada 29-30 Maret ini di markas besar WTO di Jenewa,” kata Direktur Pengamanan Perdagangan, kementerian Perdagangan, Pradnyawati, Senin (20/3).

(Baca juga: Harga Naik, Ekspor Sawit Diprediksi Pulih dan Tumbuh 8 Persen)

Pradnyawati menyatakan, gugatan yang akan diajukannya sama dengan yang pernah diajukan oleh Argentina. Negeri asal Lionel Messi itu sendiri telah berhasil memenangkan kasus ini di tingkat yang lebih tinggi, yakni Appellate Body (AB) WTO.

“Belajar dari pengalaman Argentina, kami optimistis Indonesia dapat memenangkan gugatan di Badan Penyelesaian Sengketa WTO, sehingga Uni Eropa menurunkan margin dumping atau membatalkannya,” tutur Pradnyawati.

Sementara, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan menilai ada ketidakadilan dan inkonsistensi dari pihak Uni Eropa dengan Anti-Dumping Agreement (ADA) WTO. Ia yakin bahwa Komisi Eropa telah melakukan kesalahan dalam metodologi dan penghitungan normal value serta keuntungan yang menyebabkan eksportir biodiesel asal Indonesia dikenakan bea masuk tinggi.

(Baca juga: Pemerintah Bakal Ubah Skema Subsidi Biodiesel B20)

Menurutnya, Uni Eropa merupakan pasar yang potensial untuk produk biodiesel Indonesia. “Dengan gugatan ini, kami berharap akan dihasilkan penurunan jumlah margin dumping, sehingga nantinya ekspor biodiesel kembali meningkat,” tuturnya.

Grafik: Proyeksi Konsumsi Biodiesel Terbesar pada 2016
Proyeksi Konsumsi Biodiesel Terbesar pada 2016

Lebih lanjut Oke menegaskan bahwa Indonesia tidak akan berlaku lunak terhadap upaya-upaya yang dapat merugikan akses pasar Indonesia di Uni Eropa. Hal yang sama sebenarnya juga dialami oleh Argentina.

Tidak hanya melalui Badan Penyelesaian Sengketa WTO, eksportir Indonesia juga telah mengajukan gugatan atas pengenaan bea masuk anti dumping ke General Court Uni Eropa. Pada 19 September 2016  pengadilan telah mengabulkan gugatan tersebut dan memerintahkan Komisi Eropa untuk membatalkan bea masuk anti dumping terhadap Indonesia dan Argentina. Namun, Dewan Uni Eropa tengah mengajukan banding terhadap putusan tersebut ke The European Court of Justice.

(Baca juga: Volume Ekspor Turun, Program Hilirisasi Sawit Terus Jalan)

Artikel Terkait
"Kedua negara sepakat membawa PTA ke tingkat yang lebih tinggi," kata Iman
"Dilihat dari perdagangan yang terjadi, harus ditambahkan endorsement untuk minyak sawit," kata Enggar
Indonesia dan Iran juga tengah menjajaki perjanjian dagang secara bilateral.