“Tentunya cadangan yang kami temukan selama ini harus ditambang (diproduksi). Kalau tidak tambangnya runtuh, enggak bisa dikelola lagi”
tambang freeport
tambang freeport www.npr.org

PT Freeport Indonesia mengaku cadangan mineral di Papua akan menjadi taruhan jika negosiasi dengan pemerintah tidak menemukan titik temu. Makanya Freeport menyatakan akan memanfaatkan waktu negosiasi enam bulan ini untuk mencari solusi terbaik.

Senior Vice President Geo Engineering Freeport Indonesia Wahyu Sunyoto mengatakan, cadangan tambang yang sudah ditemukan di sekitar area tambangnya harus segera diproduksi. Sebab, banyak risiko yang akan terjadi dan membahayakan tambang tersebut.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Jika terlalu lama tidak diproduksi, tambang tersebut bisa runtuh dan akan sangat sulit memperbaikinya. Dampaknya cadangan mineral yang sudah ditemukan sulit diambil dan tambangnya menjadi tidak ekonomis. (Baca: Produksi Turun, Cadangan Freeport Diprediksi Habis Tahun 2054)

“Tentunya cadangan yang kami temukan selama ini harus ditambang (diproduksi). Kalau tidak tambangnya runtuh, tidak bisa dikelola lagi,” kata dia di Jakarta, Senin (20/3). 

Oleh karena itu, Wahyu berharap negosiasi yang dilakukan perusahaannya dengan pemerintah bisa selesai dalam enam bulan dan menghasilkan solusi yang terbaik bagi kedua belah pihak. Dia tidak ingin negosiasinya berlarut-larut atau berakhir di arbitrase internasional.

(Baca: Negosiasi Masih Buntu, Freeport Belum Mau Ubah Kontrak Karya)

Sementara Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Papua Bangun S. Manurung mengatakan, Freeport mulai tahun depan akan fokus pada kegiatan tambang bawah tanah dan tidak lagi melakukan kegiatan di tambang terbuka (open pit). Freeport beralasan kegiatan di tambang terbuka sudah tidak efisien lagi untuk dilanjutkan.

“Itu menurut planning (rencana) mereka, 2018 tutup itu yang tambang terbuka,” kata dia. (Baca: Sri Mulyani Pantau Risiko Buntunya Negosiasi dengan Freeport)

Investasi untuk tambang bawah tanah sangat besar, sementara kontrak Freeport akan habis pada 2021. Makanya perusahaan asal Amerika Serikat ini meminta kepastian kegiatan operasinya masih berjalan hingga 2041. Kepastian ini penting untuk menjamin investasi yang akan dikeluarkan di tambang bawah tanah bisa kembali.

Juru Bicara Freeport Indonesia mengatakan investasi pengembangan tambang bawah tanah sudah dilakukan sejak 2004. Nilai investasi yang sudah dikeluarkan mencapai US$ 12 miliar. Pengembangan tambang bawah tanah didasarkan pada jaminan kelanjutan operasi sampai tahun 2041.

Jaminan operasi jangka panjang ini akan menentukan kelanjutan investasi pengembangan tambang bawah tanah yang akan dilakukan Freeport. “Freeport Indonesia akan mempertimbangkan rencana bisnis yang berbeda, disesuaikan dengan masa kontrak yang berakhir di tahun 2021,” ujarnya kepada Katadata beberapa waktu lalu.

Artikel Terkait
“Sehingga ke depan kami bisa memprediksi apakah perlu mengimpor LNG atau tidak," kata Arcandra.
Menurut Dadan Kusdiana, kompensasi 7 tahun ini sesuai dengan UU Migas pasal 39 ayat 1 huruf b.
“Saya belum ada keyakinan kalau 2019 akan impor. Ini karena datanya perlu diperbaiki dulu," kata Arcandra.