Darmin Prediksi Harga Tiga Bahan Pangan Berpeluang Turun
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution optimistis target inflasi pada tahun ini akan tercapai. Optimisme itu dilatari oleh tren penurunan harga komoditas pangan. Menyusul harga beras, ada tiga komoditas pangan lain yang diperkirakan mengalami penurunan harga.
Darmin mencatat, tiga komoditi pangan yang harganya berpeluang turun adalah gula, minyak goreng curah, dan daging. Sedangkan harga beras sudah turun sejak beberapa waktu lalu. Bahkan, dia menilai harga beras sudah turun cukup besar.
Menurut dia, harga beras tidak mungkin didorong turun lebih besar karena dampaknya malah akan merugikan petani. Jadi, harga pangan lainnya yang perlu didorong turun untuk meredam laju inflasi. (Baca: Sri Mulyani: Semua Mesin Ekonomi Mulai Berjalan Normal)
“Pangan masih ada komoditas yang bisa didorong turun, seperti gula, minyak goreng curah, dan daging. Tidak semua pangan, karena yang lain tidak baik juga kalau didorong turun terus,” kata Darmin di Jakarta, Selasa (4/4).
Penurunan harga bahan pangan itu bertujuan agar angka inflasi bisa sesuai target empat persen pada akhir tahun nanti. Meskipun, Darmin melihat ada risiko kenaikan harga yang diatur oleh pemerintah (administered prices), seperti Tarif Dasar Listrik (TDL) dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). “Kami perkirakan inflasi empat persen di 2018 dan 4,5 persen tahun ini.”
(Baca: Cegah Penimbunan, Distributor Wajib Daftarkan Stok Barang di Gudang)
Pada Senin (3/4) kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada bulan Maret lalu terjadi deflasi sebesar 0,02 persen. Ini merupakan deflasi pertama kali dalam tahun ini. Angka yang di luar perkiraan ini, disebabkan oleh penurunan harga komoditas pangan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara melihat, terjadinya deflasi pada Maret lalu ditopang oleh penurunan harga makanan yang bergejolak (volatile food) yang mencapai 0,77 persen dibanding bulan sebelumnya. Komoditas penyumbang deflasi yakni cabai merah, beras, cabai rawit, ikan segar, telur ayam ras, dan bawang putih.
“Penurunan harga cabai dan beras terjadi seiring dengan melimpahnya pasokan karena panen," kata Tirta. Namun, laju deflasi tertahan oleh kenaikan harga bawang merah dan minyak goreng.
(Baca: Tarif Listrik Naik, Deflasi Pada Maret di Luar Perkiraan BPS)
Karena itu, inflasi dari volatile food mencapai 2,89 persen dibanding tahun lalu (year on year/yoy). Sedangkan inflasi inti pada Maret lalu tercatat sebesar 0,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angkanya lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,37 persen.
Melambatnya laju inflasi inti pada bulan lalu terutama disumbang oleh penurunan tarif pulsa ponsel. Jadi, secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 3,3 persen.
Sedangkan komponen inflasi dari harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatatkan inflasi pada Maret lalu sebesar 0,37 persen. Namun, angkanya lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,58 persen.
Penurunan inflasi administered prices ini antara lain dipengaruhi deflasi tarif angkutan udara. Namun, karena ada dampak dari kenaikan TDL tahap kedua, maka penurunan inflasi dari administered prices tidak berlanjut.
