Penerimaan negara telah mencapai Rp 295,1 triliun pada kuartal I, lebih baik dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 247,5 triliun.
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp 104,9 triliun sepanjang kuartal 1 2017. Nominal tersebut sekitar 0,77 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pencapaian tersebut jauh lebih kecil dibanding periode sama tahun sebelumnya.

"Lebih baik dibanding tahun lalu periode sama Rp 143,4 triliun atau 1,13 persen," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Jakarta, Senin (17/4). Tahun ini, defisit anggaran ditarget turun menjadi 2,4 persen, dari 2,46 persen tahun lalu. 

Defisit mengecil lantaran penerimaan negara lebih baik dibanding periode sama tahun lalu. Sri Mulyani mencatat, penerimaan negara telah mencapai Rp 295,1 triliun atau 16,9 persen dari target dalam APBN 2017. Pada periode sama tahun lalu, penerimaan hanya Rp 247,5 triliun atau 13,9 persen dari target. (Baca juga: Genjot Penerimaan, Sri Mulyani Ingin Defisit Anggaran Terus Susut)

Penerimaan negara tersebut berasal dari perpajakan Rp 237,7 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 57,4 triliun. Adapun, penerimaan perpajakan terdiri dari bea dan cukai sebesar Rp 15,5 triliun atau 8,1 persen dari target yang sebesar Rp 191,2 triliun. Sementara penerimaan pajak sudah mencapai Rp 222 triliun atau 17 persen dari target Rp 1.307,6 triliun.

Direktur Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Yon Arsal mengatakan, bila dihitung dengan pajak penghasilan minyak dan gas (migas), penerimaan pajak tumbuh 18,23 persen dibanding periode sama tahun lalu. Namun, bila mengesampingkan PPh migas, maka pertumbuhannya hanya 15,9 persen.

Di sisi lain, belanja negara alias penyerapan anggaran telah mencapai Rp 400 triliun atau 19,2 persen dari target. Penyerapan ini lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 390,9 triliun. Adapun, belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) telah mencapai Rp 92,4 triliun atau 12,1 persen dari target dan lebih tinggi dari tahun lalu Rp 82,7 triliun.

Sedangkan belanja non K/L mencapai Rp 112 triliun atau 20,4 persen dari target, pun lebih tinggi dari tahun lalu Rp 110 triliun. Di sisi lain, transfer ke daerah telah mencapai Rp 195,2 triliun atau 25,5 persen dari target, tak jauh berbeda dengan tahun lalu. 

Dengan perkembangan defisit APBN ini, Sri Mulyani menyebut, ada kelebihan pembiayaan dari utang senilai Rp 82,9 triliun dari yang tersedia Rp 187,9 triliun. "Tahun lalu pembiayaan Rp 200,2 triliun, tahun ini Rp 187,9 triliun. Jadi ada kelebihan pembiayaan Rp 82,9 triliun," ujar dia. (Baca juga: Sri Mulyani Tantang Debat Mahasiswa Penolak Utang Tapi Prosubsidi)