Belanja modal sepanjang  Januari-Maret lalu telah mencapai Rp 11,8 triliun. Nominal tersebut lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 10,2 triliun.
Proyek LRT
Deretan tiang konstruksi proyek kereta ringan LRT rute Cawang-Cibubur di samping jalan tol Jagorawi, Rabu (15/3/2017) ANTARA FOTO/Andika Wahyu

Kementerian Keuangan optimistis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai target 5,1 persen tahun ini, didukung oleh tingginya penyerapan belanja pemerintah. Optimisme itu sejalan dengan realisasi belanja modal sepanjang kuartal I 2017 yang lebih baik dibanding tahun lalu.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani menyebutkan, belanja modal sepanjang  Januari-Maret lalu telah mencapai Rp 11,8 triliun. Nominal tersebut lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 10,2 triliun.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara pun memperkirakan belanja pemerintah bisa mendekati target Rp 2.080,5 triliun tahun ini. "Estimasi kami (belanja negara) bisa (terserap) sekitar 97 persen tahun ini," kata Suahasil kepada Katadata, beberapa waktu lalu. (Baca juga: Sri Mulyani Tantang Debat Mahasiswa Penolak Utang Tapi Prosubsidi)

Bila estimasi tersebut tercapai, belanja pemerintah bisa menorehkan pertumbuhan positif sekitar 4,8 persen, atau berbalik dari pertumbuhan negatif 0,1 persen tahun lalu. Disokong belanja pemerintah ini, Suahasil pun yakin ekonomi bisa tumbuh sesuai target 5,1 persen.

Optimisme yang sama juga sempat disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. "Pertumbuhan ekonomi belum ada update, masih (sejalan dengan target) 5,1 persen," tutur dia. Sebelumnya, ia bahkan sempat menyatakan ekonomi berpeluang tumbuh hingga 5,2 persen lantaran ada sokongan dari kinerja ekspor yang membaik seiring dengan tren kenaikan harga komoditas.

Di sisi lain, Bank Dunia memperkirakan belanja pemerintah hanya tumbuh 2,8 persen tahun ini, lebih rendah dari proyeksi pemerintah yang sebesar 4,8 persen. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi diyakini tetap mencapai target yaitu 5,2 persen disokong oleh konsumsi masyarakat, investasi swasta, dan kinerja ekspor. (Baca juga: Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Capai Target Meski Belanja Seret)

Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia Hans Anand Beck mengatakan belanja pemerintah masih terbatas lantaran penerimaan negara seret. Ia bahkan memperkirakan defisit anggaran bakal dibiarkan agak meningkat untuk menyokong belanja pemerintah. Prediksi Hans, defisit anggaran naik dari 2,46 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun lalu menjadi 2,6 persen tahun ini.

"Defisit anggaran kami proyeksikan akan melebar secara gradual menjadi 2,6 persen dan 2,8 persen di 2017 dan 2018. Ini untuk mengimbangi pendapatan yang masih rendah, sementara belanja pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur tinggi," ujar Hans. (Baca juga: Belanja Infrastruktur Sokong Ekonomi ASEAN Menguat Lebih Cepat)

Melebarnya defisit anggaran bakal membuat utang pemerintah membengkak. Bank Dunia memproyeksi rasio utang pemerintah terhadap PDB naik dari 27,9 persen tahun lalu menjadi 29 persen tahun ini.