Tahun ini rencananya Kementerian ESDM akan mempersiapkan inovasi gasifikasi batu bara untuk memasuki tahap komersial.
Arcandra ESDM
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar Arief Kamaludin (Katadata)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim telah berhasil melakukan inovasi dalam mengubah batu bara menjadi gas (gasifikasi). Terobosan ini diciptakan untuk membantu industri kecil menengah (IKM), agar lebih efisien dalam penggunaan energi dan ramah lingkungan.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan penerapan inovasi tersebut cocok diterapkan di IKM. Terutama IKM yang masih memakai bahan bakar dari kayu dan bahan bakar minyak (BBM) untuk produksinya. Industri ini akan lebih hemat jika menggunakan gas dari batu bara.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

"Dengan adanya gasifikasi batubara ini, lebih bersih batubaranya dan bisa hemat sampai 60 persen. Untuk industri kecil, hemat 60 persen itu besar. Nah, ini akan kami dorong," kata dia di Jakarta, Jumat (21/4). (Baca: Demi Tingkatkan Energi Baru, Pengusaha Minta Pembatasan BBM)

Data Kementerian ESDM mencatat saat ini di Yogyakarta terdapat sekitar 100 IKM peleburan aluminium yang membutuhkan BBM cukup besar. Jika total penggunaan BBM dari IKM ini mencapai 5.800 liter BBM bersubsidi saja per hari, maka dengan gas batu bara bisa menghemat 3.500 liter. Dalam satu bulan penghematannya mencapai 84.000 liter atau 1 juta liter per tahun.

Gasifikasi batubara merupakan teknologi yang dikembangkan Perekayasa Yenny Sofaeti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. Alatnya berupa reactor gasifier tipe up draft berdiameter 25 sentimeter (cm) dan tinggi 60 cm dengan kapasitas 2-5 kilogram batu bara per jam.

Reaktor inilah yang mengubah batu bara menjadi bahan bakar gas, melalui proses gasifikasi dengan pereaksi udara terbatas dan uap air. Produk yang dihasilkan berupa bahan bakar gas seperti karbon monoksida (CO), hidrogen (H2),dan metana (CH4). Gas ini kemudian dialirkan melalui pipa ke dapur atau burner milik IKM sebagai bahan bakar.

Teknologi gasifikasi batu bara ini juga sudah pernah mendapat pengakuan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sebagai 20 penelitian terbaik tahun 2016. Saat ini program gasifikasi batubara sedang direplikasi untuk diterapkan di IKM.

(Baca: Penggunaan Bahan Bakar Gas Minim karena Masalah Infrastruktur)

Sebenarnya program gas batu bara ini akan diimplementasikan untuk 10 IKM mulai tahun lalu. Namun, karena adanya pemangkasan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016, program ini baru bisa dijalankan untuk tiga IKM saja.

Tahun ini rencananya Kementerian ESDM akan mempersiapkan inovasi gasifikasi batu bara untuk memasuki tahap komersialisasi. Adapun untuk menuju tahapan komersial, Kementerian ESDM membutuhkan beberapa persiapan seperti usulan mempatenkan alat ini. Kemudian penyusunan draft SNI, detail engineering design (DED) gasifikasi batubara dengan berbagai kapasitas, prastudi kelayakan, dan proposal kelayakan untuk memperoleh pinjaman perbankan.

Artikel Terkait
Pelanggan 450 VA miskin atau tidak mampu tetap disubsidi Rp 1.052 per kWh. Sedangkan pelanggan 900 VA miskin/tidak mampu subsidinya Rp 862 per kWh dan pelanggan 900 VA mampu subsidinya Rp 115 per kWh.
"Daripada abu-abu, makanya kami clear-kan hitam di atas putih sekarang dengan membikin PP pajak gross split,"
Masuknya proyek hulu migas menjadi daftar tersebut untuk menjaga ketahanan energi nasional.