Perempuan Ikut Bekerja Saat Panen, Pengangguran Turun Jadi 7,01 Juta

Desy Setyowati
5 Mei 2017, 17:28
Kejar Target Produksi Gabah
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, tingkat pengangguran terbuka mencapai 7,01 juta pada Februari lalu. Jumlah tersebut menurun 0,17 persen dibanding periode sama tahun lalu. Penurunan terutama karena angka pengangguran di pedesaan menurun tajam.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memaparkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di pedesaan turun cukup besar dari 4,35 persen pada Februari 2016, menjadi 4 persen pada Februari 2017. Di sisi lain, TPT di perkotaan hanya turun tipis dari 6,53 persen menjadi 6,5 persen.  

“Tingkat pengangguran di desa turun lebih tajam daripada di kota,” kata Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Jumat (5/5). Dengan perkembangan itu, maka TPT secara keseluruhan turun dari 5,5 persen menjadi 5,33 persen pada Februari 2017. (Baca juga: Pemerintah Permudah Akses Modal untuk Pemerataan Ekonomi)

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS M Sairi Hasbullah menjelaskan, pengangguran yang menurun tajam di perdesaan karena diserap oleh sektor pertanian. Penyebab utamanya, panen raya yang terjadi pada kuartal I tahun ini. Tahun lalu, panen raya baru terjadi di kuartal II.

“Dengan begitu daya serap tenaga kerja sektor pertanian lebih tinggi di Februari 2017 dibanding 2016, karena itu angka penganggurannya pun lebih rendah,” tutur Sairi.  (Baca juga:Mentan Tingkatkan Luas Lahan Tanam Padi 7 Juta Hektare Tahun Ini)

Meningkatnya daya serap tenaga kerja di sektor pertanian berimbas pada meningkatnya partisipasi angkatan kerja perempuan. Sebab, perempuan turut membantu memanen ketika panen raya.

“Jadi masa panen itu istri, anak perempuan ikut membantu panen, jadi bukan karena peningkatan di sektor produktif lainnya, tapi karena pekerja keluarga yang meningkat,” kata dia. (Baca juga: Pemerataan Pembangunan Indonesia di Bawah Malaysia dan Thailand)

BPS mencatat, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan meningkat dari 52,71 persen menjadi 55,04 persen di Februari 2017. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan partisipasi angkatan kerja laki-laki yang justru menurun dari 83,46 persen menjadi 83,05 persen.

Meski begitu, Sairi mengatakan, kesenjangan upah masih terjadi antara perempuan dan laki-laki. Bila pekerja laki-laki menerima upah rata-rata Rp 2,95 juta, perempuan hanya menerima upah rata-rata Rp 2,27 juta. Maka, terdapat selisih rata-rata upah Rp 680 ribu atau 23 persen. Selisih upah tertinggi terdapat di sektor pertanian yang mencapai 41 persen, karena upah rata-rata laki-laki mencapai Rp 1,92 juta, sedangkan upah perempuan hanya 1,13 juta.

Secara keseluruhan, BPS mencatat jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 131,55 juta orang per Februari 2017. Adapun, tingkat partisipasi angkatan kerjanya mencapai 69,02, atau naik 0,97 poin dibanding periode sama tahun lalu. Dari total angkatan kerja, sebanyak 124,54 juta bekerja dan 7,01 juta menganggur.

Dari total angkatan kerja yang bekerja, sebanyak 87 juta bekerja penuh; 28 juta bekerja paruh waktu; dan 9,5 juta setengah menganggur. Adapun, angkatan kerja terbanyak berada di sektor pertanian yaitu sebesar 39,68 juta pada Februari 2017 atau meningkat dari Februari 2016 yang sebesar 38,29 juta.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...