Selain vonis Ahok, IHSG terbebani penurunan harga saham emiten pertambangan yang melorot seiring pelemahan harga batu bara dunia.
Bursa saham
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah nyaris satu persen dalam dua hari perdagangan. Pelemahan terjadi lantaran pelaku pasar diduga merespons vonis bersalah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pelaku pasar ambil posisi jual lantaran khawatir dengan kondisi politik atau sekadar untuk ambil untung. 

Pada hari vonis Ahok dibacakan, Selasa (9/5), IHSG ditutup melemah 0,19 persen ke level 5.697. IHSG sempat menguat saat pembukaan perdagangan Rabu (10/5), namun penguatan tidak bertahan lama, IHSG terus melorot hingga kembali ditutup melemah 0,77 persen ke level 5.653. Dengan demikian, total pelemahannya nyaris satu persen.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Kepala Riset Bahana Sekuritas Harry Su mengatakan, pelaku pasar khawatir suhu politik bakal terus memanas hingga Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2019 mendatang. "Belum normalnya suhu politik (membuat pasar khawatir)," kata Harry kepada Katadata, Rabu (10/5). (Baca juga: Ahok Divonis Penjara 2 Tahun, Jokowi: Tak Ada Intervensi Hukum)

Bila suhu politik terus memanas, ia pun menyebut ada risiko arus keluar dana asing (capital outflow) dari bursa saham dan obligasi. Adapun, pada perdagangan di bursa saham Rabu (10/5) ini, investor asing masih membukukan pembelian bersih, yaitu sebesar Rp 737,54 miliar di pasar reguler dan Rp 753,82 miliar di keseluruhan pasar. (Baca juga: ASEAN, Uni Eropa, dan Badan Dunia Soroti Hukuman Penjara Ahok)

Secara sektoral, ia melihat adanya risiko bagi emiten di sektor properti saat kondisi politik tak stabil. Alasannya, masyarakat akan lebih berhati-hati bila ingin membelanjakan atau menginvestasikan hartanya dalam jumlah besar. "Kalau (pasar) tidak merasa aman dan nyaman, tidak mau orang beli big-ticket items seperti properti," tutur dia.

Sebelumnya, pelemahan indeks pada Rabu (10/5) sudah diproyeksi tim analis dari OSO Securities. Tim memprediksi indeks masih akan melemah lantaran berkembangnya sentimen negatif di pasar terkait vonis Ahok. Di sisi lain, Senior Analis dari Bina Artha Securities Reza Priyambada justru menilai pelaku pasar hanya memanfaatkan vonis Ahok untuk melakukan aksi ambil untung alias profit taking. Pasalnya, IHSG cenderung menguat beberapa hari sebelumnya.

“Pelaku pasar memanfaatkan sentimen-sentimen tersebut, terutama sidang Ahok untuk profit taking, jadi seolah-olah sidang Ahok yang membuat IHSG melemah,” ujarnya. IHSG juga dinilai Reza terimbas oleh melemahnya saham emiten pertambangan seiring turunnya harga batu bara dunia. “Mayoritas saham yang berbasiskan penambangan batu bara terkena dampaknya sehingga banyak yang terhempas ke zona merah,” ujarnya.

Pada perdagangan Rabu (10/5), sebanyak sembilan dari 10 indeks sektoral tercatat melemah. Pelemahan paling dalam dialami indeks sektor tambang yaitu sebesar 3,04 persen dan perdagangan 1,91 persen.

Artikel Terkait
Indeks demokrasi DKI Jakarta mengalami penurunan tertinggi pada 2016. Turunnya peringkat Jakarta akibat dampak kampanye pemilihan gubernur.
Pertama, pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM belum mengambil keputusan apa pun terkait harga tersebut.
"Dengan adanya momentum tersebut, diharapkan semakin menumbuhkan minat investor terhadap pasar modal. Diharapkan dengan IPO akan banyak investor yang berminat," kata William