Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara menyatakan bahwa rasio utang Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan negara tetangga.
Rupiah
Uang rupiah pecahan baru Rp 100.000 di Cash Centre Bank BNI 46, Jakarta, Senin (18/08). Arief Kamaludin|KATADATA

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara menyatakan, utang Indonesia saat ini masih sangat terkendali. Utang Indonesia dinilai masih lebih rendah dari beberapa negara lainnya.

Suahasil mengatakan, pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang sifatnya defisit. Artinya, pengeluaran memang dibuat lebih tinggi utamannya untuk membangun infrastruktur dan memberikan perlindungan sosial.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Defisit tersebut pun harus ditutupi dengan utang. Namun, pada akhirnya, penggunaan utang untuk kegiatan tersebut bertujuan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi domestik.

"Tentu ketika dalam menjalankan anggaran yang mencari utang, kami melakukannya dengan cara seksama, diatur agar utang tidak terlalu besar," ujar Suahasil saat ditemui di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, Selasa (11/7).

(Baca juga: DPR Sepakati Postur Sementara RAPBN 2018, Asian Games Jadi Prioritas)

Suahasil mengklaim, utang indonesia yang tercatat sebesar Rp 3.672,33 triliun hingga Mei 2017. Menurutnya, hal tersebut perlu dilihat dari dua sisi. Pertama, jika mengacu pada Undang-Undang yang menetapkan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 60 persen, maka, utang Indonesia yang hany sekitar 28 persen dari PDB dinilai masih cukup rendah.

Kedua, dibandingkan dengan negara di sekitar Indonesia, seperti Malaysia yang memiliki rasio utang 40 persen terhadap PDB dan Thailand yang memiliki rasio utang terhadap PDB sebesar 50 persen, tentunya rasio utang Indonesia yang sebesar 28 persen masih cukup rendah. Begitu pula jika dibandingkan dengan Jepang yang sebesar 200 persen dan Amerika Serikat yang sebesar 100 persen dari PDB.

"Jadi kalau lihat rasio utang Indonesia 28 persen masih sangat aman, bisa dikendalikan," ujar Suahasil. 

Memang, Suahasil mengakui, kalau dilihat secara makro, maka, pengelolaan utang Indonesia masih perlu adanya perbaikan. Alasannya, jumlah utang yang diambil pertumbuhannya memang cukup cepat. Dengan demikian, kredibilitas Indonesia di mata investor tetap terjaga. Suahasil mengatakan, untuk melakukan hal tersebut, pemerintah akan menjaga prosentase utang Indonesia bertahan di angka 28 persen terhadap PDB.

Dirinya menambahkan, kredibilitas Indonesia di mata investor pun semakin membaik. Hal ini merupakan dampak dari peringat layak investasi yang diberikan oleh 3 lembaga pemeringkat dunia. Alhasil, surat utang Indonesia pun makin banyak diminati investor.

Selain itu, kondisi ekonomi makro juga mempengaruhi minat tersebut. "Pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, inflasi terkendali, maka, banyak yang tertarik," ujarnya.

Miftah Ardhian
Artikel Terkait
"Kami memprediksi (pertumbuhan ekonomi tahun ini) sebesar 5,2 persen. Kalau semester I ini mencapai 5,1 persen maka secara rata-rata pertumbuhan ekonomi semester II akan 5,3 persen," kata Aldian
"Pertumbuhan konsumsi (masyarakat) kira-kira 4-4,5 persen. Tapi ini di bawah perkiraan kami," kata Dody
BI masih mewaspadai risiko global, terutama yang berasal dari Amerika Serikat (AS), serta risiko domestik berupa konsolidasi korporasi dan perbankan yang berlanjut.