Menurut Fadel, beberapa perusahaan migas selama ini mengeluh terkait lambatnya kerja SKK migas, salah satunya terkait proses birokrasi untuk urusan operasi.
Sumur Minyak
Chevron

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memprediksi hingga 2050 tren produksi siap jual (lifting) akan terus menurun. Bahkan beberapa proyek yang akan berproduksi dalam kurun waktu 2017 hingga 2050 pun tidak dapat mendongkrak lifting minyak tersebut.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan pada 2050 nanti, lifting minyak hanya mencapai 173.000 barel per hari (bph). Angka ini jauh dibandingkan target tahun ini yang bisa mencapai 815.000 bph. Padahal ada 36 proyek migas, seperti Lapangan Kedung Keris di Jawa Timur dan Blok Kasuri di Papua dalam periode tersebut dan beberapa program pengurasan sumur (Enhanced Oil Recovery/EOR).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca: Lifting Minyak dan Gas Bumi Semester I 2017 Turun)

Meski ada proyek-proyek yang akan berproduksi, menurut Amien, hal itu belum bisa meningkatkan lifting secara signifikan. "Artinya produksi yang sekarang ada belum bisa mempertahankan produksi sampai 2050," kata dia di Gedung DPR, Jakarta, Senin (17/7).

Untuk mendongkrak lifting minyak, Amien mengatakan perlu lebih banyak lagi eksplorasi guna menemukan cadangan dengan skala besar. Jadi tidak bisa hanya mengandalkan wilayah kerja yang ada saat ini.

Jika ada eksplorasi maka lifting bisa dipertahankan. "Lifting jangka panjang itu perlu penemuan baru yang besar, ini perlu ditingkatkan​ eksplorasi," kata dia di sela sela rapat dengar pendapat dengan komisi VII DPR di gedung DPR Jakarta, Senin (17/7).

Tidak hanya minyak, di 2050, lifting gas juga akan menurun hingga mencapai 2.233 mmscfd. Namun, sebelum itu, lifting gas akan meningkat pada 2023 menjadi 7.402 mmscfd, dari saat ini 6.630 mmscfd. Adapun sepanjang 2017 hingga 2050 setidaknya terdapat 24 proyek gas yang akan beroperasi.

(Baca: Ada 3 Megaproyek Hulu Migas, Pemerintah Batal Impor Gas Tahun 2019)

Menghadapi kondisi tersebut, SKK migas juga berupaya meningkatkan produksi migas. Pertama dengan menjalankan program utama hulu migas dengan memperhatikan keekonomian wilayah kerja. Kedua, penerapan teknologi​ tepat guna, seperti melakukan jumlah sumur horizontal untuk menguras sisa minyak yang tertinggal di bagian atas pada suatu lapangan minyak.

Ketiga, mengupayakan metode baru untuk penemuan sumber daya migas misalnya dengan kegiatan seismik. Keempat, memantau agar proyek pengembangan bisa berjalan tepat waktu. Kelima, mengupayakan pemeliharaan untuk tingkatkan​ kehandalan fasilitas produksi.

Di tempat yang sama,  anggota Komisi VII DPR Fadel Muhammad mengkritisi penurunan lifting migas tersebut. Beberapa perusahaan yang menjadi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) selama ini mengeluh terkait lambatnya kerja SKK migas, salah satunya terkait proses birokrasi untuk urusan operasi. (Baca: Revisi UU Migas, DPR Rancang Badan Usaha Khusus Migas)

Untuk itu, DPR juga mengkaji kembali keberadaan SKK Migas. "Makanya di RUU Migas kami coret SKK Migas ini, tidak perlu lagi ada badan seperti ini," kata Fadel.

Artikel Terkait
Jumlah pasokan gas ke Inti Alasindo Energy mencapai 40 juta kaki kubik per hari (mmscfd).
"Jadi ini sangat tergantung dengan harga, juga terutama nanti siapa pengguna listriknya," kata Iwan
Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pemahaman pemerintah daerah terhadap Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang menjadi acuan dalam menyusun RUED.