Pada semester I 2017, Telkom membukukan pendapatan Rp 64,02 triliun atau tumbuh 13,4 persen dibandingkan tahun lalu.
Telkom KATADATA|Arief Kamaludin
Telkom KATADATA|Arief Kamaludin Telkom KATADATA|Arief Kamaludin

 

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk berencana untuk mengakuisisi sejumlah perusahaan untuk mendongkrak kinerjanya ke depan. Ada 10 perusahaan berbasis digital yang masuk radar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Direktur Digital & Strategic Portofolio Telkom David Bangun menjelaskan, rencana akuisisi ini merupakan inisiatif yang bersifat anorganik untuk membantu pengembangan bisnis Telkom sendiri. Saat ini, Telkom tengah melakukan proses evaluasi terhadap 10 perusahaan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

"Sementara bidangnya ada yang bergerak di sektor financial technology (fintech) dan e-commerce," ujar David saat konferensi pers, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (7/8).

Menurut David, besaran dana yang dibutuhkan untuk rencana tersebut belum ditakar. Menurutnya, Telkom saat ini masih berfokus ke kebutuhan perusahaan.

"Pendekatan kami sekarang bukan anggaran, tapi lebih pendekatan kami butuh apa untuk Telkom ke depan. Kalau tidak bisa organik, ya kami akuisisi," ujarnya. 

(Baca juga:  Menkominfo Tolak Usul Indosat Patok Tarif Batas Bawah Internet)

Selain itu, David menjelaskan, pihaknya juga sedang berfokus untuk mengembangkan bisnis salah satu anak usahanya yakni PT Jalin Pembayaran Nusantara (JPN). Menurutnya, perusahaan ini menjalankan tiga jenis usaha utama yakni sebagai switching company, pengelola Anjungan Tunai Mandiri (ATM), dan Electronic Data Capture (EDC).

Menurut David, kegiatan tersebut akan mulai beroperasi maksimal pada awal 2018. Saat ini, Telkom tengah memperbaiki dan menyiapkan teknologi yang dibutuhkan, termasuk mengintegrasikan layanan dari perbankan BUMN tersebut, khsusnya mengintergrasikan 60 ribu ATM yang dimiliki perbankan BUMN.

David kembali menjelaskan, untuk mendukung proses tersebut, Telkom akan mengucurkan dana sekitar Rp 500-700 miliar. Namun, ke depannya, saham JPN ini tidak akan seluruhnya dipegang oleh Telkom, tetapi akan didistribusikan ke pihak lainnya, seperti perusahaan induk (holding) BUMN perbankan apabila telah terbentuk.

"Sedang dibicarakan di Kementerian BUMN. Sekarang 100 persen masih Telkom, tapi nanti akan ditetapkan oleh Kementerian BUMN (pembagian sahamnya)," ujar David.

 (Baca: Pemerintah Segera Terbitkan Aturan Tarif Jasa Operator Telekomunikasi)

Direktur Keuangan Telkom Harry M Zen menjelaskan, pihaknya akan terus menggenjot kinerja yang menjadi inti bisnis Telkom, terutama dalam meningkatkan pendapatan dari lini Data, Internet & IT Services. Alasannya, pendapatan lini bisnis tersebut telah mengalahkan pendapatan dari Iini Cellular, Voice & SIVlS.

Pada Semester I-2017 Telkom mencatat pendapatan dari Data, Internet & IT Services sebesar Rp 27,12 triliun, sedangkan pendapatan Cellular Voice & SMS sebesar Rp26,02 triliun. Kontribusi bisnis Data, Internet & IT Services terhadap total pendapatan Perseroan pun meningkat menjadi 42,4 persen. 

Secara keseluruhan, pada Semester l-2017 ini Telkom membukukan pertumbuhan double digit. Di mana pendapatan mencapai Rp 64,02 triliun atau tumbuh 13,4 persen dibandingkan tahun lalu yang tercatat Rp 56,45 triliun. Telkom juga membukukan EBITDA sebesar Rp 33,23 triliun atau tumbuh 15,4 persen serta laba bersih sebesar Rp 12,10 triliun atau tumbuh 21,9 persen.

”Pencapaian pada Semester l-2017 ini diperoleh berkat kuatnya kinerja Perseroan pada periode sebelumnya, kami berharap, momentum pertumbuhan ini dapat kami pertahankan pada semester selanjutnya," ujarnya.

Miftah Ardhian
Artikel Terkait
Jahja mengatakan M Cash memiliki pertumbuhan penjualan yang tinggi dan merupakan perusahaan digital yang sudah memperoleh laba
Ada 200 gerai JNE di seluruh Indonesia yang dapat menerima pembayaran dari transaksi Tokopedia.
JNE mengakui adanya peningkatan volume pengiriman, namun tak sebesar yang dinyatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu.