Mengacu pada data single investor identification (SID), jumlah investor pasar modal Indonesia menembus 1 juta pada Juni lalu.
Model Popular di BEI
Para finalis model Popular mengikuti pemaparan tentang investasi dan pasar modal di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (3/11). Arief Kamaludin|KATADATA

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menargetkan, jumlah investor di pasar modal Indonesia bisa setara di pasar modal Thailand. Untuk mencapai target tersebut, otoritas harus mengembangkan lebih banyak instrumen investasi.

Hingga Juli 2017, PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor menurut single investor identification (SID) mencapai 1.025.414. Jumlah itu meningkat 14,7% dari posisi akhir tahun lalu. “Kalau (menargetkan seperti) pusat keuangan seperti Singapura, itu terlalu loncat. Thailand, barangkali bisa,” kata Wimboh saat Konferensi Pers terkait Hari Ulang Tahun Pasar Modal ke-40 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (11/8).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan, untuk mengejar target tersebut, pihaknya harus terus mengembangkan instrumen investasi. Saat ini ada dua instrumen investasi yang sedang dikembangkan otoritas. Pertama, perpetual bond yang merupakan obligasi yang diterbitkan tanpa masa pelunasan dan pembayaran kupon dilakukan periodik untuk selamanya atau yang dikenal dengan obligasi bunga abadi.

Menurut dia, instrumen investasi semacam ini tengah dikembangkan oleh pemerintah untuk mendukung pembiayaan infrastruktur. Instrumen ini bisa menjadi salah satu jenis pembiayaan infrastruktur non-anggaran (PINA).

Kedua, obligasi berdenominasi rupiah yang diterbitkan di luar negeri. Salah satu emiten yang berminat adalah PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Emiten berkode bursa JSMR tersebut berencana menerbitkan obligasi global dengan target perolehan dana segar sebesar US$ 200 - 300 juta atau maksimal Rp 4 triliun. (Baca juga: Jasa Marga Akan Terbitkan Obligasi Rupiah di Luar Negeri Rp 4 T)

“Karena obligasi berdenominasi rupiah ini akan menurunkan biaya atau cost of fund, jadi emiten enggak pusing memikirkan risiko kurs,” kata Hoesen.

Adapun Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi mengatakan, jumlah investor di pasar modal Indonesia menembus angka satu juta pada Juni 2017. Jumlah tersebut merupakan jumlah SID terkonsolidasi yang terdiri dari investor pemilik Saham, Surat Utang, Reksa Dana, Surat Berharga Negara (SBN) dan Efek lain yang tercatat di KSEI.

Sejauh ini, mayoritas investor masih berdomisili di Pulau Jawa yaitu sebesar 77,15%. Secara usia, yang terbanyak yaitu investor berusia 21 hingga 30 tahun sebanyak 25% dan investor berusia 31 sampai 40 tahun sebanyak 25%.

Wanita yang akrab disapa Kiki ini menambahkan, sebagian besar investor Pasar Modal Indonesia merupakan investor perorangan lokal, dengan jumlah mencapai 993.181 investor atau 96% dari total jumlah investor. Jumlah investor perorangan lokal pun meningkat 109% dari tahun lalu.

Di sisi lain, total aset yang tercatat di KSEI juga ikut mengalami peningkatan. Hal itu sejalan dengan peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Total aset yang tercatat pada sistem C-BEST KSEI pada 31 Juli 2017 sebesar Rp 4.046,46 triliun, naik 19,53% dibanding pertengahan tahun lalu.

Artikel Terkait
Peran pemerintah dalam menjaga stabilitas fundamental makro ekonomi dalam negeri dinilai menjadi faktor pendorong utamanya.
OJK masih melakukan kajian dalam memetakan transaksi investasi bitcoin.
OJK menganggap tak ada yang bisa dijadikan jaminan (underlying) bitcoin sebagaimana produk investasi lainnya.