“Dipengaruhi penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor migas bagian pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas,” kata Direktur Eksekutif BI Agusman.
Dolar
Dolar Arief Kamaludin|KATADATA

Cadangan Devisa kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Bank Indonesia (BI) mengumumkan, cadangan devisa mencapai US$ 128,8 miliar pada akhir Agustus lalu, atau meningkat dari posisi akhir Juli yang sebesar US$ 127,8 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman menjelaskan, peningkatan tersebut terutama disokong oleh penerimaan hasil ekspor minyak dan gas (migas) bagian pemerintah. “Terutama dipengaruhi penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor migas bagian pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas,” kata dia melalui siaran pers tertulis yang dilansir pada Jumat (8/9).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurut dia, besaran cadangan devisa melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo. Cadangan devisa pada akhir Agustus tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Cadangan devisa juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. “Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” ujarnya.

Menebalnya cadangan devisa membuat ketahanan ekonomi Indonesia meningkat dalam menghadapi risiko eksternal. Salah satu risiko eksternal yang tengah diwaspadai yaitu kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), baik terkait kenaikan bunga dananya maupun normalisasi neracanya. (Baca juga: Gubernur BI: Ekonomi Dunia Lebih Bergejolak Setelah Krisis 2008)

Kebijakan itu disebut-sebut berisiko menyebabkan arus keluar modal asing (capital outflow) yang bisa menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tebalnya cadangan devisa membuat BI bisa lebih leluasa dalam menjaga stabilitas pasar keuangan, termasuk menjaga rupiah. (Baca juga: Dana Asing di Pasar Keuangan Rp 130 T, Lebih Rendah dari Tahun Lalu)

Artikel Terkait
BI mengatur biaya gratis isi ulang uang elektronik dalam batasan tertentu dengan transaksi di bank yang menerbitkan.
Perbankan nasional khawatir fintech asing dapat menguasai pasar dalam negeri. BI berjanji menerapkan standar yang sama.
BI akan mengatur batasan pengenaan biaya untuk isi ulang (top up) uang elektronik .