Penurunan terdalam Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terjadi di kota Banjarmasin, Mataram, dan Jakarta.
Toko elektronik
Arief Kamaludin|KATADATA

Survei konsumen Bank Indonesia (BI) mengindikasikan keyakinan konsumen pada Agustus 2017 melemah. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang turun 1,5 poin menjadi 121,9. Secara regional, penurunan terdalam IKK terjadi di kota Banjarmasin, Mataram, dan Jakarta.

“Menurunnya persepsi konsumen terhadap penghasilan saat ini dan ketepatan waktu pembelian barang tahan lama (durable goods) menyebabkan lebih rendahnya IKK,” demikian tertulis dalam hasil survei yang dirilis BI, Kamis (7/9). (Baca juga: Tak Capai Target, Sri Mulyani Ramal Ekonomi Tumbuh Paling Tinggi 5,17%)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Penurunan terdalam IKK terjadi di kota Banjarmasin yaitu 8,5 poin, Mataram 7,2 poin, dan Jakarta 6,7 poin. Penurunan IKK juga terjadi hampir di semua kelompok responden, terutama pada responden dengan pengeluaran Rp 4,1 juta-Rp 5 juta dan Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan dengan kelompok umur 51-60 tahun.

Secara rinci, terdapat dua indeks yang membentuk IKK yaitu Indeks Kondisi Ekonomi saat ini dan Indeks Ekspektasi Konsumen. Adapun Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini tercatat melemah 2,6 poin menjadi 110,6. Penyebabnya, penurunan indeks penghasilan saat ini dan indeks ketepatan waktu pembelian barang tahan lama.

Indeks penghasilan saat ini tercatat turun 5,6 poin menjadi 121,3. "Penurunan indeks penghasilan saat ini terjadi di hampir semua kelompok tingkat pengeluaran," demikian tertulis. Itu artinya, masyarakat tak begitu yakin pendapatannya akan membaik pada Agustus ini sehingga berpotensi menahan belanja.

Tak ayal, rata-rata rasio pengeluaran untuk konsumsi juga menurun 0,2% menjadi 63,8%. Rasio pembayaran cicilan juga menurun 0,3% menjadi 15,1%. Sebaliknya, porsi tabungan meningkat sebesar 0,5% menjadi 21,1%. “Penurunan konsumsi yang diikuti dengan peningkatan porsi tabungan merupakan indikasi adanya penyesuaian perilaku pola konsumsi masyarakat.”

Sementara itu, indeks ketepatan waktu pembelian barang tahan lama (durable goods) tercatat menurun 3,7 poin menjadi 110,7. "Penurunan terjadi terutama untuk kelompok barang elektronik dan furnitur rumah tangga." (Baca juga: BI Sebut Inflasi Inti Rendah Tak Cerminkan Lemahnya Daya Beli)

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tercatat menurun 0,4 poin menjadi 133,2. Indeks ini menggambarkan optimisme konsumen terhadap perekonomian hingga enam bulan ke depan. Penyebabnya masih sama, yaitu ekspektasi penghasilan yang menurun 0,2 poin menjadi 144,4. Selain itu, ekspektasi kegiatan usaha yang menurun 3,3 poin menjadi 134,9.

Penurunan kedua ekspektasi tersebut terjadi di hampir semua kelompok tingkat pengeluaran. "(Untuk ekspektasi penghasilan) Penurunan terdalam terjadi pada kelompok tingkat pengeluaran Rp 1-2 juta dan Rp 2,1-3 juta per bulan. Juga untuk kelompok usia 51-60 tahun.”

Sementara itu, responden memperkirakan tekanan harga meningkat pada tiga dan enam bulan mendatang. “Meningkatnya ekspektasi kenaikan harga tersebut masih disebabkan oleh kekhawatiran responden terhadap kemungkinan adanya kenaikan tarif listrik dan energi (BBM dan LPG).”

Artikel Terkait
Besaran uang muka properti di Indonesia tergolong rendah dibandingkan negara lainnya.
BI mencermati risiko global berupa pengetatan kebijakan moneter di negara maju dan risiko domestik yaitu pertumbuhan kredit yang melemah.
Dolar AS masih berpeluang menguat. Penyebabnya, data perekonomian AS yang membaik sehingga memperbesar peluang kenaikan bunga dana di negara tersebut.