“Setelah 2022 kelihatannya sudah harus mulai impor. Tapi nanti kan tergantung proses pembangunan hulu di Indonesia seperti apa," kata Nicke.
Pipa gas
Arief Kamaludin|KATADATA

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) menyatakan belum ada rencana impor gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dalam waktu dekat. Ini mengacu pada kondisi lapangan migas yang ada di dalam negeri.

Direktur Pengadaan Strategis 1 PLN Nicke Widyawati mengatakan dengan kondisi lapangan yang ada saat ini, kemungkinan impor tidak dilakukan hingga 2022. “Setelah 2022 kelihatannya sudah harus mulai impor. Tapi nanti kan tergantung proses pembangunan hulu di Indonesia seperti apa," kata dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (8/9).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca: Jonan Ubah Batas Harga Gas Bumi untuk Pembangkit)

Dalam neraca gas 2016 hingga 2035 yang dibuat Kementerian ESDM sebenarnya impor LNG mulai dilakukan pada 2019.  Pada tahun itu diprediksi pasokan gas dalam negeri hanya 7.651 juta kaki kubik per hari (mmscfd), sedangkan permintaan mencapai 9.323 mmscfd.

Namun, neraca tersebut kemungkinan akan direvisi. Menurut I.G.N. Wiratmaja Puja saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Migas, pelaksanaan impor bisa saja mundur karena ada beberapa proyek gas yang berjalan, seperti Lapangan Jangkrik di Blok Muara Bakau, Train 3 Tangguh dan Blok Masela.

Alasan lainnya pembatalan impor ini juga karena ada kargo gas yang belum terserap. Tahun ini terdapat 16-18 kargo yang belum terserap dan rencananya akan dijual untuk industri di dalam negeri.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, tren kargo yang tidak terjual  memang meningkat setiap tahunnya. Pada 2014 kargo tidak terserap mencapai 22 kargo, rinciannya 16 kargo diekspor dan sisanya untuk domestik.  Setahun kemudian, kargo tidak terserap sebesar 66, rinciannya 60 kargo diekspor dan 6 kargo untuk dalam negeri. 

(Baca: Dua Alasan Indonesia Tak Perlu Impor Gas Jangka Panjang Hingga 2025)

Di 2016 juga ada 66,6 kargo tidak terserap, rinciannya  43 kargo diekspor dan 23,6 kargo untuk dalam negeri. Angka tersebut terus bertambah hingga 2035 dengan rata-rata jumlahnya mencapai 50-60 kargo per tahun.  

 

Artikel Terkait
"Dana itu akan dimanfaatkan untuk beberapa proyek Indonesia Power," kata Sripeni Inten Cahyani.
“Surat sudah disampaikan ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),” kata Adiatma Sardjito.
“Bisa saja (dapat fasilitas pajak), itu yang kami tanyakan sama mereka soal insentif. Mereka maunya bagaimana nanti kami bahas,” kata Suahasil.