Bank Permata membuka kesempatan bagi seluruh nasabahnya untuk membeli obligasi secara online. Meski, peminatnya saat ini masih terbatas pada nasabah prioritas.
Bursa saham
Beberapa siswa berfoto dengan latar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (24/2). ANTARA FOTO/M. Agung Rajasa

PT Bank Permata Tbk meluncurkan fitur E-Bond yang terdapat dalam platform digitalnya yang bernama Permata E-Wealth. Fitur ini merupakan layanan transaksi jual-beli obligasi, khususnya Surat Utang Negara (SUN) meIaIui internet banking pertama di Indonesia.

Direktur Retail Banking Bank Permata Bianto Surodio menjelaskan, fitur ini diluncurkan guna memberikan kemudahan kepada nasabah Bank Permata untuk melakukan transaksi jual beli obligasi, khususnya berupa SUN.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Ada dua langkah yang perlu dilakukan sebelum bisa menikmati fitur E-Bond tersebut. Pertama, menjadi nasabah Bank Permata dan mengunjungi kantor cabang untuk melakukan transaksi pembelian obligasi untuk pertama kali.

(Baca juga:  Setelah Kioson, E-commerce M-Cash Bersiap Masuk Bursa)

"Datang ke kantor cabang hanya perlu satu kali saja untuk registrasi sendiri dan juga untuk menerangkan kepada nasabah untuk mengetahui esensi dari registrasinya," ujar Bianto saat ditemui usai acara peluncuran fitur E-Bond, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (11/9).

Selanjutnya, nasabah perlu melakukan registrasi layanan Internet banking Bank Pertama. Setelah itu, nasabah dapat secara leluasa mengakses fitur E-Bond di dalam platform internet banking Bank Permata untuk melakukan transaksi pembelian.

“Dengan demikian, transaksi pun bisa dilakukan di mana saja tanpa perlu mengikuti prosedur konvensional,” ujarnya.

Bianto pun berharap fitur ini dapat membuat volume transaksi jual-beli obligasi bisa semakin meningkat untuk memenuhi kebutuhan pendanaan program pemerintah, khususnya dalam pembangunan infrastruktur. Walaupun, yang melakukan transaksi ini masih kebanyakan nasabah prioritas.

"Kami peruntukkan buat nasabah semua, tapi biasanya kalo bonds itu memang untuk nasabah prioritas yang lebih banyak beli," ujar Bianto. (Baca juga: OJK Turunkan Batasan Aset IPO agar Startup Bisa Masuk Bursa)

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat mengatakan, peluncuran fitur E-Bond ini merupakan fasilitas yang disediakan oleh perbankan untuk mentransaksikan surat utang, utamanya yang dimiliki oleh negara. Menurut Samsul, bagi bursa sendiri, peningkatan likuiditas dari surat utang ini bisa membantu transaksi electronic trading platform yang sudah disediakan oleh BEI.

"Kami di bursa sudah punya electronic trading platform untuk transaksi surat utang. Ini memang belum banyak digunakan oleh masyarakat," ujar Samsul.

Sementara itu, Direktur Surat Utang Negara Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting mengatakan, pihaknya menyambut baik adanya fitur baru dari Bank Permata ini. Alasannya, pihak Kemenkeu pun berusaha untuk mengembangkan pasar keuangan. (Baca juga: Bos GDP Venture: Dari Seribu Startup, Hanya 2% yang Bertahan)

Salah satu inisiatifnya adalah bagaimana instrumen yang sudah diperdagangkan bisa aktif diperdagangkan, sehingga bisa likuid dan spread-nya itu tidak lebar. "Nantinya setelah likuid di pasar sekunder kami bisa lebih mudah menentukan acuan harga," ujarnya.

Loto pun menjelaskan, dalam waktu dekat Kemenkeu akan meluncurkan ORI014 di pasar perdana. Dengan demikian, produk ini bisa menjadi pilihan investasi di pasar sekunder yang ditawarkan pada 29 September - 19 Oktober 2017.

Selain itu, Loto juga akan menjual Surat Berharga Negara (SBN) retail secara online dengan melakukan kemitraan dengan beberapa mitra distribusi. "Investor individu semakin cerdas tidak hanya beli instrumen retail tapi juga nonretail," ujar Loto. 

Miftah Ardhian
Artikel Terkait
"Indikasinya (shifting ke pasar obligasi) sangat kuat," ujar Wahyu
Pemerintah mempersiapkan penerbitan SBN yang bisa menjangkau lebih banyak investor sehingga kebutuhan pembiayaan bisa terpenuhi.
Elisabeth mengatakan pihaknya menyadari pentingnya penambahan jumlah emiten di pasar modal guna meningkatkan likuiditas dan pendalaman pasar.