Grup Astra baru menambah porsi saham di perusahaan properti PT Astra Modern Land (AML) menjadi 67%. Langkah ini dianggap menunjukkan keseriusan Astra melebarkan sayap bisnis properti.
apartemen
Salah seorang penjaga stand memperlihatkan peta pembangunan apartemen di Jakarta. KATADATA /Agung Samosir

Grup Astra baru saja menambah porsi saham di perusahaan properti PT Astra Modern Land (AML) menjadi 67%. AML merupakan perusahaan patungan yang dibentuk PT Astra Land Indonesia (ALI) dengan grup PT Modernland Realty Tbk (MDLN). Langkah ini dianggap menunjukkan keseriusan Astra melebarkan sayap bisnis properti.

“Transaksi ini menunjukkan grup Astra serius di bisnis properti, sebagai grup besar Astra terus mencari pertumbuhan pendapatan,” kata Kepala Riset PT. Universal Broker Indonesia Satrio Utama dihubungi Katadata, Rabu (13/9).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca: Selain Astra, Kini Salim 'Menguasai' Bisnis Air Bersih di Jakarta)

Astra Land dan Modern Land menandatangani perjanjian dalam bentuk Amended and Restated Conditional Land Transfer Agreement (ARCLTA) dan Conditional Share Subscription Agreement in Respect (CSSA) pada 8 September 2017. Transaksi ini dilaporkan ke Bursa Efek Indonesia pada Selasa (12/9).   (Baca: Astra Akan Akuisisi Ruas Tol Trans Jawa Milik Waskita Karya)

Modernland memiliki saham AML melalui PT Mitra Sindo Makmur (MSM). Sebelum kesepakatan ARCLTA dan CSSA, porsi saham MSM sebesar 50% di AML. Jumlah yang sama dimiliki Astra Land Indonesia. Setelah transaksi MSM akan memiliki saham sebesar 33% di AML. Sementara Astra Land menjadi 67% atau menjadi pemilik mayoritas.

(Baca juga:  Atasi Kampanye Hitam CPO, Astra Agro Genjot Ekspor ke Timur Tengah)

Lewat transaksi ini, MSM akan mengalihkan tanah seluas 665.918 meter persegi atau 66 hektar kepada AML untuk pengembangan Jakarta Garden City (JGC) yang terletak di jalan raya Cakung Cilincing, Jakarta Timur. Pengalihan tanah ini menjadi bagian dari modal yang akan ditempatkan dan disetor grup MDLN di AML. Nilai transaksi perjanjian ini mencapai Rp 3,179 triliun.

Astra berencana mengembangkan kawasan terpadu, dengan perkiraan kebutuhan modal pembangunan mencapai Rp 23 triliun selama kurun 15-20 tahun. (Baca: Otomotif dan Komoditas Dongkrak Laba Kuartal I Astra 63 Persen)

Grup Astra mengumumkan masuk ke bisnis properti pada Oktober 2016. Perseroan menggunakan PT Menara Astra sebagai induk usaha properti, yang membawahi Astra Land Indonesia dan PT Brahmayasya Bahtera.

Beberapa proyek properti yang telah digarap Astra di antara pembangunan tiga tower apartemen mewah Anandamaya Residences dan gedung perkantoran Menara Astra di atas lahan seluas 2,4 hektar di kawasan Sudirman, Jakarta. Kedua proyek daalam tahap groundbreaking dan pembangunan basement dengan target selesai pada 2018.

Proyek ini dikerjakan oleh Brahmayasya dengan bekerja sama Hongkong Land dengan investasi mencapai Rp 8 triliun. Selain itu, Astra juga berencana untuk membangun proyek perumahan di kawasan TB Simatupang.

Kepala Riset Reliance Securities Robertus Yanuar Hardy menyatakan bila dibandingkan lini bisnis Astra di sector lain seperti otomotif, perkebunan, dan pertambangan, infrastruktur, jalan tol ataupun air bersih, kontribusi bisnis properti hanya mencapai 1%. “Kontribusi bisnis properti terhadap grup masih kecil dibandingkan bisnis lain,” kata Yanuar.

Namun, dia menilai ke depannya bisnis properti akan berkontribusi lebih positif terhadap grup Astra. “Potensi untuk kerjasama dengan bisnis unit Astra yang lain, terutama jasa keuangan seperti Bank Permata juga semakin terbuka lebar,” kata Yanuar.

Artikel Terkait
Ombudsman dan YLKI menerima pengaduan dari calon pembeli apartemen Meikarta. Konsumen mengadu kesulitan menarik uang booking fee dari agen pemasaran.
Peringatan Ombudsman atas promosi Meikarta tak memberikan dampak. Promosi megaproyek Meikarta terus berlanjut melalui agen pemasaran mau pun berbagai iklan.
Pemprov Jawa Barat meminta pemerintah Kabupaten Bekasi memperbaiki Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang di antaranya memuat kawasan megaproyek Meikarta.