Realisasi penggunaan energi terbarukan pada tahun 2016 hanya mencapai 6,9%. Padahal target yang dicanangkan pemerintah mencapai 11%.
Bambang Bappenas
Arief Kamaludin | Katadata

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) merasa pesimistis terhadap pengembangan energi terbarukan. Bappenas memprediksi target porsi energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 16% sulit tercapai.

Menteri PPN/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 - 2019 realisasi penggunaan energi terbarukan pada tahun 2016 hanya mencapai 6,9%. Padahal target yang dicanangkan pemerintah mencapai 11%. Begitu pula dengan sasaran tahun ini serta 2018 mendatang sebesar 15%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

"Terlalu jauh dari posisi (target) 2019," kata Bambang dalam acara The 6th Indo EBTKE Conex 2017, di Jakarta, Rabu (13/9). (Baca: Tujuh Perusahaan Siap Teken Kontrak Listrik EBT Dengan PLN)

Meski Bappenas pesimistis dengan target tersebut, hingga kini pemerintah belum berencana merevisi target dalam RPJMN tersebut. Hanya saja memang diperlukan percepatan agar sasaran utama penggunaan energi baru dan terbarukan pada tahun 2025 sebesar 23 persen masih dapat terkejar.

Bambang menyoroti beberapa permasalahan yang menjadi penyebab investasi di sektor energi terbarukan ini berjalan lambat. Beberapa di antaranya adalah tingginya risiko pengembalian modal investor. Lalu ada pula posisi sumber energi terbarukan yang relatif jauh dari pasar.

"Sehingga yang termudah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)," katanya. (Baca: Investasi di Sektor Energi Baru Terbarukan Makin Diminati)

Meski demikian, mantan Menteri Keuangan tersebut melihat ada beberapa cara agar investasi energi ini menarik. Salah satunya adalah pengenaan tarif listrik berjenjang. Selain itu perlu juga dicari model pembiayaan lain supaya porsi energi terbarukan semakin besar. Cara lainnya adalah dengan mengganti pembangkit diesel dengan tenaga surya (solar cell) di pukau terluar.

Namun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jonan sendiri mengklaim investor di sektor energi baru terbarukan terus bermunculan. Bahkan ada beberapa investor dari luar negeri yang ingin menanamkan modalnya untuk membangun pembangkit berbasis energi baru terbarukan.

Salah satu contohnya adalah investor asal Belanda yang berencana membangun pembangkit listrik tenaga arus laut di Selat Larang Hutan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Adapun pembangkit tersebut berkapasitas 20 MW dengan rata-rata kecepatan arus laut sebesar 4-5 meter per detik.

(Baca: Skema Jual Beli Listrik dari Pembangkit Batu Bara Bisa Rugikan PLN)

Artikel Terkait
Pemerintah daerah diminta mempermudah pembuatan akta kelahiran.
Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan merupakan proyek sektor air minum pertama di Indonesia yang menggunakan skema KPBU plus mendapatkan fasilitas VGF dari Kementerian Keuangan.
Mencuatnya Balikpapan bertentangan dengan yang ramai diberitakan banyak media massa bahwa Palangkaraya yang diincar pemerintah, seperti yang pernah diwacanakan Soekarno tahun 1957.