Wacana pembebasan bea masuk ini digulirkan dalam bingkai Indonesia Australia - Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
Tekstil
Katadata | Arief Kamaludin

Indonesia dan Australia tengah menjajaki pembebasan bea masuk terhadap tiga komoditas unggulan dari masing-masing negara. Wacana ini digulirkan dalam bingkai Indonesia - Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

“Karena ini merupakan pembahasan dari implementasi free trade agreement, jadi harus diperhitungkan keuntungan dan kerugiannya,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai menerima Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (11/10).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Airlangga menyampaikan, Australia meminta kepada Indonesia agar tiga komoditasnya bisa bebas bea masuk, yaitu susu (skim milk dan skim milk powder), copper cathode, serta baja (hot rolled coil dan cold rolled coil).

Sebagai gantinya, Australia memberi tawaran pembebasan bea masuk untuk tiga komoditas potensial Tanah Air. "Mereka menawarkan untuk ditukar dengan tekstil, alas kaki, dan pakaian yang bea masuknya juga menjadi 0%,” ujarnya.

Menurut Airlangga, pembebasan bea masuk tersebut menjadi peluang besar bagi industri Indonesia untuk berkembang, misalnya di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT).

Ia menyebut, produk tekstil Tiongkok dan Vietnam sudah dikenakan 0% di pasar Eropa dan Amerika, sedangkan ekspor produk tekstil Indonesia masih kena bea masuk 5-20%. Pembebasan bea masuk oleh Australia dapat menjadi peluang pasar baru bagi produk tekstil Indonesia. “Dengan pembebasan bea masuk ini, industri kita akan semakin kuat," tuturnya.

Airlangga berharap, kolaborasi ini dapat lebih meningatkan daya saing dan produktivitas bagi sektor manufaktur nasional melalui penyediaan bahan baku berkualitas. Pasalnya, selama ini Indonesia masih banyak dikenakan tarif bea masuk ke pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. “Ini karena kita punya daya saing tinggi, sehingga mereka pasang barikade juga,” ujarnya.

Menurutnya, industri tekstil, hingga aneka jenis alas kaki dan peralatan olah raga telah mampu menunjukkan daya saingnya di tingkat global. “Khusus untuk industri shoes and apparel sport, kita sudah melewati Tiongkok. Bahkan, di Brazil, kita sudah menguasai pasar di sana hingga 80%,” kata Airlangga.

Michael Reily
Artikel Terkait
Sebelumnya seluruh retribusi pasar masuk ke Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehingga, dana pengelolaan pasar menunggu anggaran dari daerah.
Industri galangan kapal memiliki karakteristik padat karya, padat modal sekaligus padat teknologi.
"Meski CEO untuk Piala Dunia 2022 tidak sempat hadir, kami sudah ada pembicaraan untuk ikut menjadi konsorsium (kontraktor)," ujarnya.