Pendekatannya bukan cost ditambah margin lagi, tapi harga batu bara yang Domestic Market Obligation itu dibedakan dengan harga batu bara yang ekspor.
Batu Bara_Bernard.jpg
ilustrasi batu bara. KATADATA/

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)/PLN kembali mengusulkan skema harga batu bara untuk pembangkit. Ini merupakan tindak lanjut setelah formula awal ditolak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan.

Direktur Pengadaan Strategis 1 PLN Nicke Widyawati mengatakan kali ini pendekatannya berbeda dengan sebelumnya. “Pendekatannya bukan cost ditambah margin lagi, tapi harga batu bara yang Domestic Market Obligation itu dibedakan dengan harga batu bara yang ekspor. Jadi lebih murah," kata dia di Gedung DPR Jakarta, Rabu (11/10).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurut Nicke, selama ini harga batu bara untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor masih disamakan, dengan mengacu harga pasar dunia. Harga Acuan Batu Bara (HBA) di Indonesia mengacu pada empat index, yakni Indonesia Coal Index, Platts59 Index, New Castle Export Index, dan New Castle Global Coal Index. 

Berdasarkan data Kementerian ESDM dalam tiga bulan terakhir, Harga Acuan Batubara  (HBA)  mengalami tren kenaikkan. Harga batu bara Juli hanya US$ 78,95 per ton. Kemudian naik di Agustus menjadi US$ 83,97 per ton. Sementara September, HBA meningkat menyentuh US$92,03 per ton.Jika dihitung rata-rata, maka HBA Januari-Agustus tercatat US$ 82,02/ton.

Seharusnya harga dalam negeri bisa lebih murah untuk kebutuhan listrik masyarakat. "Ini batu bara dari Indonesia, dipakai untuk listrik Indonesia, kenapa harus 100% harganya ikut pasar dunia?" kata dia.

Di sisi lain, harga batu bara dalam negeri ini penting karena berpengaruh terhadap keuangan PLN. Apalagi perusahaan pelat merah itu tidak bisa menaikkan tarif listrik hingga akhir tahun. Adapun, laba perusahaan pada paruh pertama tahun ini turun menjadi Rp2,3 triliun dibandingkan Semester I-2016 yang bisa mencapai Rp 7,9 triliun.

Meskipun begitu, Nicke menyerahkan keputusan penetapan formula harga DMO kepada Kementerian ESDM. Selain itu, PLN juga terus mengefisiensikan biaya untuk batu bara dengan mengakuisisi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang. 

Terdapat tiga pembangkit yang menjadi prioritas PLN untuk diakuisisi, yakni PLTU MT Jambi I dengan kapasitas 2x300 MW, PLTU MT Kalselteng 3 dengan kapasitas 200 MW, dan PLTU MT Kaltim 5 dengan kapasitas 200 MW.

Sebelumnya, PLN memang mengusulkan formula baru dengan biaya produksi ditambah dengan margin 15-25% untuk produsen batu bara. Namun Jonan tidak menyetujui formula itu karena tidak mendorong PLN dan produsen batu bara menjadi lebih efisien.

Selain itu bisa formula biaya ditambah margin itu bisa dipermainkan. “Itu konsep usang. Kalau kayak gitu nanti cost-nya dibikin tinggi,” ujar Jonan, di Jakarta, Kamis (28/9).

Artikel Terkait
Saat ini hanya ada 14 kepala keluarga yang memanfaatkan itu. Padahal saat beroperasi 2013 bisa mencapai 80 kepala keluarga.
Pembangunan kabel bawah laut ini diharapkan bisa menekan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik Bangka Belitung.
Total nilai investasi proyek tersebut adalah US$ 15,5 juta atau Rp 211 miliar.