Rupiah Melemah, Kalbe Farma Naikan Harga Jual Obat

Penulis: Ekarina

Kamis 30/8/2018, 07.47 WIB

Pelemahan nilai tukar menekan kinerja perusahaan farmasi karena sebagian besar bahan baku masih berasal dari impor.

obat farmasi
KATADATA
obat farmasi

 

Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi sejak awal tahun telah menekan kinerja perusahaan farmasi. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) misalnya, perusahaan berencana menaikan harga jual obat bebas dan produk nutrisi sebesar 3%-4% secara bertahap untuk menjaga stabilitas perolehan margin.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius menuturkan kondisi makro ekonomi dan pelemahan rupiah memberi andil terhadap keputusan perusahaan menaikan harga jual. Sebab, 70%-90% bahan baku obat farmasi masih berasal dari impor sehingga dampaknya terhadap peningkatan biaya produksi cukup besar.

Vidjongtius menyebut, setiap rupiah melemah 1% bisa berdampak terhadap komponen harga jual sekitar 0,035%. Sementara itu, dengan rupiah yang melemah sekitar 8% saat ini, maka perseroan menetapkan untuk menaikan harga jual obatnya sekitar 2,5%-3%.

(Baca : Industri Farmasi Paling Parah Kena Dampak Pelemahan Rupiah)

"Setelah kami melakukan kalkulasi ulang harga pokok produksi, memang sepertinya harus ada kenaikan harga untuk jenis obat bebas dan produk nutrisi. Kenaikan harga kami lakukan bertahap pada Juli, Agustus dan Oktober 2018,"kata Vidjongtius di Jakarta, Kamis (29/8).

Untuk mengurangi dampak tekanan pelemahan rupiah dan meningkatkan kinerja, Kalbe Farma juga terus menggenjot kinerja ekspor dengan target kenaikan 1% per tahun. Adapun pada tahun lalu, ekspor telah berkontribusi sekitar 6% terhadap total pendapatan perseroan atau sekitar Rp 1 triliun.

Beberapa produk perseroan kategori obat bebas seperti procold dan extra joss menurut Vidjong cukup diminati dibeberapa pasar di Afrika seperti Nigeria. Sementara untuk produk nutrisi seperti Diabetasol juga menjadi andalan penjualan perseroan di pasar Filipina.

(Baca juga: Pelemahan Rupiah Menekan Industri Makanan dan Minuman)

Dengan strategi yang perusahaan lakukan tersebut, perseroan berharap bisa mencatat kenaikan penjualan sebesar 5%-7% dari realisasi penjulan tahun lalu sebesar Rp 20,18 triliun.

Industri farmasi merupakan salah satu sektor paling rentan terdampak pelemahan nilai tukar. Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan industri farmasi merupakan sektor yang paling parah terkena dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga kini belum stabil, bahkan telah menyentuh level Rp 14.600.

"Industri pharmaceutical menjadi persoalan karena dia sebagian bahan baku impor, (sedangkan) jualnya rupiah," kata Airlangga.

Industri farmasi tidak bisa melakukan ekspor karena terkendala beberapa hal seperti hak kekayaan intelektual (intellectual property right). "Kemudian kalau kita bicara dengan bio chemical ada urusan dengan sampel, bagaimana sampel itu bisa diekspor impornya lebih mudah," kata Airlangga.

Kementerian Perindustrian mengupayakan menekan beban industri farmasi dengan mengupayakan menambah konten lokal dalam kegiatan di sektor farmasi. "Jadi semakin banyak konten lokal itu akan sangat membantu daya saing industri," ujar Airlangga.

Tidak hanya industri farmasi, beberapa industri menengah-besar yang pinjamannya dalam bentuk dolar AS pun terdampak stabiliasinya. Namun, Airlangga memastikan industri-industri besar tidak merugi karena ada natural hedging. "Jadi natural hedging-nya adalah utangnya dolar, produknya juga dolar (dari ekspor)," katanya.

Untuk industri kecil-menengah, kata Airlangga, malah mendapatkan keuntungan karena industri ini hampir seluruhnya menggunakan bahan baku dan tenaga kerjanya yang berasal dari dari dalam negeri. Kemudian mereka menjual produknya ke luar negeri sehingga mendapatkan dolar.

Namun satu sisi, industri berbasis ekspor memiliki kerentanan karena bergantung pada perubahan kebijakan dan pasar negara tujuan ekspor. "Sebagai contoh, ekspor otomotif ke Vietnam. Begitu mereka membuat regulasi baru, itu langsung seluruh market-nya tertutup dan (efek) itu bisa sifatnya instan," katanya.