Berencana Kerek Bunga Acuan, BI Perketat Kebijakan Moneter 2019

Penulis: Rizky Alika

Editor: Dini Hariyanti

Kamis 13/9/2018, 18.39 WIB

"BI harus ahead of the curve jadi policy kami hawkish (cenderung ketat) pada 2019".

Bank Indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA

Bank Indonesia (BI) akan hawkish pada 2019 alias cenderung mengetatkan kebijakan moneternya. Sikap ini bertujuan menjaga kestabilan kurs rupiah, salah satu opsi dengan menaikkan suku bunga acuan.

Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara mengatakan, kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve berlanjut pada tahun depan. Kemungkinan Fed Fund Rate dikerek sebanyak 0,75% - 1,25%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

"Sementara negara tetangga masih akan menaikkan bunga acuannya. Jadi, BI harus ahead of the curve jadi policy kami hawkish pada 2019," tuturnya di dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Kamis (13/9).

(Baca juga: Ekonom Sarankan BI Tidak Menaikkan Suku Bunga Acuan Lagi)

BI memperkirakan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) hingga tahun depan mencapai 1,25% menjadi 3,25%. Sementara itu, imbuh Mirza, pasar memproyeksikan posisi Fed Fund Rate bervariasi, yakni 3%, 3,25%, hingga 3,5%.

Meskipun tren pergerakan Fed Fund Rate naik, BI menilai tekanan dari pasar global pada 2019 berkurang dibandingkan dengan tahun ini. "Kenaikan bunga acuan AS dari 2% ke 3,25% itu seharusnya lebih controllable dibandingkan kenaikan dari 0,25% ke 2%," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku optimistis bahwa kurs mata uang Garuda akan menguat pada 2019. Asumsinya, dinamika perekonomian global mereda lantaran kenaikan Fed Fund Rate tak setinggi tahun ini.

Perry juga memperkirakan bahwa kondisi domestik turut membaik. Hal ini dapat terindikasi dari defisit transaksi berjalan (current account deficit / CAD) yang diyakini menyempit. Per Juni tahun ini, CAD di posisi 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Beberapa kebijakan dikeluarkan pemerintah untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan, salah satunya penerapan biodiesel 20%. B20 diramal mampu menekan impor minyak hingga US$ 6 miliar. Kebijakan ini juga bisa menambah ekspor minyak sawit mentah.

Selain itu, pemerintah juga menggenjot sektor pariwisata untuk meningkatkan pasokan devisa di dalam negeri. (Baca juga: Sidang IMF-Bank Dunia di Bali Berpotensi Sumbang Devisa Rp 642 Miliar